Novel Rania Part 10
Bab 10 Pudar
.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb-mu-lah hendaknya kamu berharap.” [Asy-Syarh/ 94:7-8)
Tahun 1999
Hanif meletakkan mushaf di meja ketika mendengar ketukan. Ia sedang menyelesaikan tilawah Al-Qur’an, target satu juz setiap hari. “Masuk!” Hanif menggeser duduk menghadap pintu.
Sosok Herman, teman satu kos sekaligus satu kampus, muncul dari balik pintu. “Nif, nanti malam habis Isya bisa rapat?”
Hanif mengangguk. “Insya Allah, Akhi.”
“Afwan mendadak, ada yang perlu kita diskusikan.”
“Alhamdulillah malam ini ana kosong.” Akhir pekan seperti ini biasanya ada saja undangan menjadi imam Tahajjud datang.
“Alhamdulillah. Ana mau kasih tahu ke yang lain dulu. Assalamua’alaik um.” Hanif kembali menutup pintu.
Hanif menarik napas pelan setelah kepergian kakak tingkatnya itu. Sekarang ia memiliki kesibukan baru. Setelah mengikuti pelatihan jurnalistik beberapa bulan yang lalu, ia mulai aktif menulis.
Herman yang membawanya ke dunia media cetak. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau ia bisa menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Apalagi mengelola sebuah majalah. Namun di bawah kepemimpinan Herman, semua terasa mudah.
Sudah lama Hanif menaruh kagum pada laki-laki cerdas itu. Baginya Herman memiliki aura kepemimpinan kuat. Kata-kata yang keluar dari lisan kakak tingkatnya itu selalu berenergi dan penuh motivasi. Bahkan ia sendiri terbakar.
Bekal energi positif dari Herman, Hanif kini mampu menulis berlembar-lemba r
kalimat motivasi. Dilampiaskan kemampuannya untuk membantu buletin
Al-Izzah yang sudah beberapa bulan tidak terbit. Setelah beberapa kali
terbit dalam bentuk buletin, Hanif memiliki ide untuk meningkatkannya
menjadi majalah. Diajukan proposal bisnis ke bapaknya. Gayung
bersambut. Bapak serius memodali. Jadilah Hanif sibuk mengurus majalah
Al-Izzah. Menerbitkan dan memasarkannya ke kampus-kampus di seluruh
Indonesia bersama teman-temannya.
Herman dan Hanif berbagi tugas. Herman sebagai pimpinan redaksi, Hanif sebagai pemimpin umum. Selain mereka ada dua orang lagi yang bergabung dalam korps jurnalistik ala kampus. MIPA menjadi terkenal. Topik-topik dakwah yang up to date, dikemas profesional oleh Hanif sebagai bahan tulisan yang digandrungi para kader dakwah. Terlebih dengan tim nasyid Izzatul Islam, majalah Al-Izzah mengambil peran untuk menjadi corong dakwah bagi tim nasyid tersebut. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.
Memulai penerbitan majalah itu tidaklah mudah. Di awal Hanif membawa beberapa eksemplar terbitan perdana bersampul Dr. Yusuf Qardhawi ke sebuah toko buku Islam terbesar di Depok. Ulama Timur Tengah itu tengah datang ke Indonesia. Ceramahnya menjadi kupasan utama oleh Hanif dan tim redaksi.
Alih-alih diterima dengan baik, sang pemilik toko membanting majalah itu. “Mana mungkin majalah ini dibeli orang Akhi ... kualitas cetaknya nggak bagus.”
Hanif terdiam. Seluruh upaya terbaik dilakukannya. “Atau begini, Pak. Ana titip saja dulu beberapa di sini. Kalau laku, alhamdulillah. Kalau tidak, ya, tidak mengapa.”
Beberapa hari kemudian, ribuan eksemplar ludes diborong oleh beberapa toko buku. Setelah itu Al-Izzah mulai dikenal dan diterima pasar.
Hanif bersyukur Allah memberinya jalan keluar untuk permasalahan yang dihadapi. Lebih tepatnya pelampiasan. Hanif jadi sibuk. Setelah Rania pindah divisi, mereka tidak pernah bertemu. Hanya beberapa kali berpapasan di kampus tanpa saling menyapa atau bertukar senyum. Tidak ada lagi rapat di mushalla kampus. Ia merasa kehilangan.
Ia tidak punya alasan untuk menelepon Rania, karena tidak ada hal yang perlu dibahas di antara mereka berdua. Kalau dulu ia bebas menelepon akhwat itu untuk membahas program pembinaan, sekarang …?
Hanif teringat saat terakhir kali ia menelepon Rania setelah Subuh.
“Ana minta maaf kalau selama berinteraksi ada lisan ana yang tidak pada tempatnya,” ujar Hanif berusaha tetap tenang. “Ana minta maaf kalau dalam rapat terlalu banyak menuntut. Ana juga minta maaf kalau pernah membuat anti tersinggung. Insya Allah sama sekali tidak ada niatan ke arah sana.”
“Sama-sama, ana juga minta maaf kalau selama bekerja sama tidak sesuai harapan.”
“Insya Allah nggak. Ana belum pernah menemukan akhwat seperti anti.” Baru saja lisan terlepas, Hanif sudah merutuk dalam hati. Bisa-bisa Rania salah persepsi dengan kalimat barusan. Ia langsung menambahkan. “Di mana pun anti ditempatkan nanti, ana yakin anti akan bekerja, sama kerasnya seperti anti di pembinaan.”
“Insya Allah.”
Betapa Hanif ingin berlama-lama. Merekam semua pembicaraan terakhir mereka. Ia yakin akan merindukan suara seindah alunan dari surga. Namun waktu yang memisahkan. Baru lima menit menelepon, keduanya mulai tidak nyaman. Rania lebih banyak diam. Ia membiarkan Hanif banyak berbicara.
“Itu saja Ukhti, sekali lagi, maafkan ana. Semoga dosa-dosa kita diampuni Allah. Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikumussa lam.”
Hari-hari berlalu. Ada masa di mana kerinduan itu begitu kuat. Hanif hanya sanggup duduk di kasur dan memandangi alat telekomunikasi di genggaman selama bermenit-menit.
Jari yang bergerak hendak menekan tombol, maju mundur. Jantungnya
berdetak dua kali lebih cepat. Berdebat. Namun ia masih bisa
mengendalikan diri. Dengan putus asa ia melempar ponsel dan istighfar
beberapa kali. Begini rasanya sakit menahan rindu. Seperti ada yang
mendesak di dalam dadanya, meminta pelepasan.
Netranya ingin melihat Rania, telinganya ingin mendengar Rania, dan penciumannya ingin menghirup Rania. Sebegitu kuat. Rindu ini bersarang terlalu lama. Memakan ruang kosong di hati hingga penuh dengan satu nama. Rania.
Sampai Hanif tidak tahan lagi dan tersungkur dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia sadar betul tidak patut menggantikan Sang Pemilik Hati dengan makhluk-Nya. Demi mengobati hati, ia men-tarbiyah diri dengan puasa Daud dan shalat Tahajjud. Berharap Allah melimpahkan kasih sayang kepadanya.
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisiknya seraya mengangkat tangan setelah menyelesaikan Tahajjud di sepertiga malam. “Engkau yang telah menciptakan rasa ini. Engkau yang menciptakan wanita mulia. Engkau yang mensyariatkan pernikahan. Tapi kenapa rasa ini begitu perih, ya Allah? Salahkah hamba memiliki rasa ini? Salahkah hamba bila mengagumi ciptaan-Mu? Salahkah hamba?
“Jika Engkau tak mengizinkan, ambillah rasa cinta ini dari hati hamba, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa ya Rabb... Bakar dan sirnakanlah semua rasa cinta ini ya Allah.”
“Hamba tahu ya Rabb, cinta sejati hanya kepada-Mu. Hamba tahu jiwa hamba tak mampu menampung dua cinta. Cinta pada-Mu dan cinta pada makhluk-Mu. Sungguh, Engkah telah saksikan, hmaba telah mendidik diri ini untuk mencintai dakwah, Tahajjud, dan ayat-ayat cinta-Mu. Tapi kenapa Engkau uji hamba dengan terpaut pada wanita? Kenapa Engkau izinkan hati hamba tertambat padanya? Lalu kini terhempas begitu saja?
“Namun, jika memang ini dosa ya Rabb, jika cinta ini adalah maksiat, jika rasa ini adalah khianat hamba pada-Mu, tentu hamba juga takut pada siksa-Mu. Hamba takut akan neraka-Mu. Apinya menjilat-jilat. Hamba tak
akan sanggup menahannya. Maka maafkanlah hamba. Jangan siksa hamba.
Kasihanilah hamba-Mu yang lemah dan hina dina ini.”
Hanif bersujud dengan airmata tumpah di sajadah. Ada perasaan marah di sana. Juga rasa malu dan dosa. Ia ingin segera lepas dari rasa yang menyiksa.
Cintanya pada Rania telah mengisi ruang batinnya paling dalam. Ia tak menyangka sebesar itu. Baru kini ia sadari, saat dirinya tak lagi mampu menemuni Rania. Bahkan sekedar mendengar suaranya. Kini doanya hanya satu, agar Allah membantunya melupakan Rania dan mengampuni dosanya. Agar Allah memberikan aktivitas pelipur lara, yang mampu membuang jauh-jauh Rania dari hatinya.
Ia bersyukur ketika mendapat pelarian yang membuatnya lupa. Jadwal padat mengelola Al-Izzah membuat rasa rindunya terkikis.
Inilah jawaban yang Allah berikan. Hal terbaik yang ia jalani saat ini. Insya Allah akan membawanya untuk kembali mereguk manisnya iman dan ghirah untuk berdakwah.
***
Rania melangkahkan kaki ke lantai dua. Ada kajian di masjid kampus. Ia melihat jam di pergelangan, masih ada lima belas menit sebelum masuk waktu shalat Maghrib. Alih-alih duduk dan mengambil tempat untuk dirinya dan Ziya, Rania memilih duduk di balkon. Dari atas ia bisa melihat orang lalu lalang. Banyak gerobak penjual makanan yang berjejer di jalan masuk.
Ketika mengedarkan pandangan, netranya menangkap sosok yang sudah lama menghilang dari kampus. Hanif. Ikhwan itu sendirian. Tampak sedang membeli sesuatu, sepertinya gorengan. Setelahnya Hanif masuk ke pekarangan dan menghilang.
Rania baru sadar kalau selama itu ia menahan napas. Allah. Tangannya menekan dada yang berdebar pelan. Kenapa ikhwan itu masih saja memberikan getaran di hati?
Ia sudah melepaskan hasrat dalam diri dan fokus ke akademis dan dakwah. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal liqo, mengisi kajian, mengajar TPA, les privat, kuliah, praktikum, dan keputrian. Pulang malam sudah menjadi makanan sehari-hari. Saat tubuh letihnya menyentuh kasur, ia langsung terlelap. Jurnal harian yang dulu sempat ia sentuh, kini nyaris kosong. Seolah tidak punya waktu luang.
Dulu Rania berpikir, dengan ketidakhadiran Hanif di hari-harinya, akan membuat semua lebih mudah. Ternyata tidak. Awalnya bisa bertahan, tetapi lambat laun ia merasa ada yang kosong. Hilang. Kadang ia terlonjak kaget mendengar dering telepon setelah Subuh, harap-harap cemas kalau itu Hanif. Atau berangan-angan mendengar suara atau tilawah ikhwan itu ketika ia sedang di sekre mushalla.
Namun semua tidak pernah terjadi. Ia tidak pernah bertemu Hanif di kampus. Kenangan dua tahun bersama dalam satu amanah dakwah, perlahan sirna.
Ketika rasa itu kembali hadir, Rania berusaha meredam dan membuang jauh. Doanya dalam sujud panjang di sepertiga malam. “Ya Rabb, hati ini begitu sempit untuk menampung banyak cinta. Hanya cinta kepada-Mu yang menyelamatkan,”
lirihnya. “Tapi hamba begitu lemah, kadang tidak kuat menahan rasa yang
menyelusup. Bila dia bukan untukku, jauhkan sejauh-jauhnya. Tetapi … bila dia jodohku, dekatkanlah ya Allah. Dekatkanlah.”
Kini, Rania merasa Allah tengah menjauhkannya dari Hanif. Terbukti tidak pernah sekali pun bertemu dengan ikhwan itu. Sampai barusan.
“Hei!”
“Innalilllahi.” Rania terlonjak seraya menoleh ke sampingnya. “Ziya! Ngagetin, deh.”
Ziya mesem-mesem. “Afwan. Habis anti tampangnya serius gitu. Lagi ngeliatin apa, sih?” Ziya mendekat ke tembok pembatas dan melongokkan kepala ke bawah.
“Eh, bukan apa-apa.” Rania menutupi rasa gugup dengan menjauh dari balkon. “Ke dalam, yuk. Sebentar lagi Maghrib.”
Walau penasaran, Ziya mengikuti sahabatnya itu masuk.
“Oya, ana bertemu Kak Hanif di bawah tadi,” ujar Ziya seraya meletakkan tas di karpet dan duduk.
Deg!
Rania menegang sesaat. Gerakannya terhenti.
“Ran,” panggil Ziya ketika melihat sahabatnya itu masih berdiri.
“Eh, iya.” Rania berdehem untuk menutupi keterkejutan. “Anti bertemu Kak Hanif?” Ia ikut meletakkan tas dan duduk.
“Iya, tapi sekilas saja. Nggak sempat nyapa juga.”
Rania menghela napas lega. “Ooo ….”
“Kenapa Kak Hanif nggak pernah kelihatan di kampus, ya?”
Rania mengangkat bahu. Urusan Hanif, bukan urusannya.
“Apa sudah mulai skripsi terus ngambil data di luar?”
“Nggak tahu juga.”
Ziya berdehem. “Ehm, anti sudah … nggg … sudah nggak ….” Ziya menjadi gagap.
Rania tersenyum simpul. “Nggak. Alhamdulillah, ana sudah melepaskan.”
Ziya ikut tersenyum. “Alhamdulillah. Ana doakan anti mendapat pengganti yang terbaik pada waktunya nanti.”
“Amin.” Ia yakin janji Allah itu pasti. Perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik. Ia hanya perlu memperbaiki diri, insya Allah jodoh terbaik akan datang. Walau itu bukan Hanif.
“Oiya, Ran, anti sudah dengar berita yang santer beredar di kampus?” Ziya beranjak masuk ke ruang shalat untuk akhwat dan duduk di sana. Rania mengikuti.
“Berita apa?” Rania jarang mengikuti gosip yang beredar.
“Itu … Dini.”
Rania mengenal Dini sebagai salah satu teman di angkatanya. Parasnya manis dan santun. Ia pernah beberapa kali bertemu. “Kenapa Dini?”
“Kabarnya dia hamil di luar nikah,” bisik Ziya, khawatir terdengar jamaah lain yang mulai berdatangan.
“Innalillahi.” Mata Rania melebar dengan tangan menutup mulut. “Anti yakin dengan kebenaran beritanya?”
Ziya mengangguk pasti. “Ana dapat info dari sumber yang bisa dipercaya.”
“Subhanallah,” lirih Rania sendu. “Terus … sekarang bagaimana keadaan Dini?”
“Laki-lakinya mau bertanggung jawab, tapi tetap saja. Nama baik keluarganya jadi tercoreng.”
Rania menarik napas panjang. Allah. Ia menyesal karena dulu memilih untuk menghindar kumpul-kumpul dengan teman satu angkatan. Ia lebih memilih menyendiri di mushalla agar tidak terwarnai dengan lingkungan. Ia ingin mendekat dengan Rabb-nya, tetapi malah meninggalkan teman-teman yang mungkin butuh didekati.
Rania teringat ketika tahun pertama kuliah pernah melihat teman satu jurusan pacaran di depan mata. Benar-benar tidak punya rasa malu, berpelukan di muka umum. Waktu itu ia langsung menegur si perempuan, sayangnya temannya itu tidak menggubris nasihat Rania.Malah menyuruh Rania untuk mengurus urusannya sendiri, jangan mengurus urusan orang lain.
Sedih sebenarnya. Bagaimana perempuan di zamannya sudah melepas rasa malu dari diri mereka atas nama cinta. Padahal Islam begitu memuliakan perempuan. Islam memelihara perempuan dengan menyariatkan menutup aurat. Islam menjaga perempuan dengan melarang berdua-duaan dengan yang bukan mahrom. Islam memberikan solusi menikah, bukan pacaran. Islam menempatkan perempuan di tempat yang tinggi. Namun kadang perempuan itu sendiri yang merendahkan diri dengan membiarkan laki-laki menyentuhnya.
Astaghfirullah.
Rania berjanji dalam hati, ia harus merangkul semua. Tidak hanya mahasiswa berjilbab, tetapi juga yang belum. Karena setiap orang berhak untuk mendapatkan pencerahan. Hidayah Allah bisa datang dari mana saja, ia hanya sebagai perantara.
Azan Maghrib merdu berkumandang. Rania membuka bekal ifthor yang disiapkan. Sudah tiga minggu ia puasa Daud, sebagai upaya riyadhoh melupakan Hanif.
Di lantai bawah, Hanif juga melakukan hal yang sama. Ia membuka bungkus gorengan yang dibelinya di dekat masjid. Ia sedang puasa Daud.
Karena bukan waktu puasa Senin dan Kamis, sepertinya hanya Hanif dan Rania yang berbuka puasa di masjid saat ini. Ternyata Allah masih menyisakan kebersamaan, walau dalam diam.
***
Hanif menatap kursor yang berkedip-kedip di hadapan. Ia melirik kertas di meja yang penuh coretan tangan. Ide tulisan sudah ia tuangkan, tinggal mengembangkanny a dalam bentuk tulisan.
Jiwa-jiwa Hunain.
Hanif terinspirasi dari perang Hunain yang dialami Rasulullah dan kaum muslimin. Tidak lama setelah Fathu Makkah, mereka kembali harus berperang. Jumlah yang banyak membuat kaum muslimin meremehkan lawan. Hal ini membuat mereka kocar-kacir karena terlena dengan kemenangan sebelumnya, tidak menyangka strategi perang musuh menghajar habis-habisan pasukan.
Allah sendiri menyebutkan tentang perang ini di dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah. "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.
"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
"Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya . Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Walau kemenangan berada di kaum muslimin, tetapi mereka mengalami kerugian besar dari segi nyawa. Banyak dari mereka yang gugur.
Hanif mulai mengetikan jemari di atas keyboard. Pikirannya berkelana ke lebih seribu empat ratus tahun yang lalu. Mencoba menghadirkan suasana pada masa itu di hatinya.
Sejak majalah Al-Izzah berdiri, Hanif bertanggung jawab terhadap isi. Dulu ia harus berjuang untuk mencari dan menulis semua artikel, tentu dibantu dengan teman lain. Sekarang lebih mudah. Banyak pembaca dan ustadz yang ikut mengisi. Hanif tinggal menambal beberapa tulisan di kajian utama. Plus satu kolom khusus yang dipegangnya sampai saat ini. Kolom Jiwa-Jiwa. Kolom ini disukai banyak pembaca.
Hanif memakai Abu Hanifah, disingkat AH, sebagai nama pena. Sejak dulu ia kagum dengan ulama besar Mazhab Hanafi tersebut. Selain itu, ada kemiripan dengan namanya.
Ketika sedang asyik mengetik, tiba-tiba lintasan pikiran hadir di kepala. Sekarang majalah Al-Izzah sudah tersebar sampai ke pelosok negeri. Oplah mencapai 14.000 eksemplar per bulan. Alhamdulillah, berkat ikhtiar yang sungguh-sungguh dan
istiqomah. Dengan masuknya majalah ke kampus-kampus, apakah … Rania ikut
membacanya? Dan … apakah akhwat itu tahu dirinya menjadi pengasuh
sebuah kolom di sana?
Hanif menarik napas panjang. Jangan bermain api lagi. Sudah cukup ia merasakan penderitaan sakit menahan rindu. Ia tidak mau lagi. Bukan urusannya Rania membaca atau tidak. Bukan itu tujuannya menulis.
Rania tetap akan menjadi sebuah kenangan indah. Seorang akhwat yang pernah mampir dihatinya dan meninggalkan jejak cukup dalam. Hanya setakat itu.
.
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
Tahun 1999
Hanif meletakkan mushaf di meja ketika mendengar ketukan. Ia sedang menyelesaikan tilawah Al-Qur’an, target satu juz setiap hari. “Masuk!” Hanif menggeser duduk menghadap pintu.
Sosok Herman, teman satu kos sekaligus satu kampus, muncul dari balik pintu. “Nif, nanti malam habis Isya bisa rapat?”
Hanif mengangguk. “Insya Allah, Akhi.”
“Afwan mendadak, ada yang perlu kita diskusikan.”
“Alhamdulillah malam ini ana kosong.” Akhir pekan seperti ini biasanya ada saja undangan menjadi imam Tahajjud datang.
“Alhamdulillah.
Hanif menarik napas pelan setelah kepergian kakak tingkatnya itu. Sekarang ia memiliki kesibukan baru. Setelah mengikuti pelatihan jurnalistik beberapa bulan yang lalu, ia mulai aktif menulis.
Herman yang membawanya ke dunia media cetak. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau ia bisa menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Apalagi mengelola sebuah majalah. Namun di bawah kepemimpinan Herman, semua terasa mudah.
Sudah lama Hanif menaruh kagum pada laki-laki cerdas itu. Baginya Herman memiliki aura kepemimpinan kuat. Kata-kata yang keluar dari lisan kakak tingkatnya itu selalu berenergi dan penuh motivasi. Bahkan ia sendiri terbakar.
Bekal energi positif dari Herman, Hanif kini mampu menulis berlembar-lemba
Herman dan Hanif berbagi tugas. Herman sebagai pimpinan redaksi, Hanif sebagai pemimpin umum. Selain mereka ada dua orang lagi yang bergabung dalam korps jurnalistik ala kampus. MIPA menjadi terkenal. Topik-topik dakwah yang up to date, dikemas profesional oleh Hanif sebagai bahan tulisan yang digandrungi para kader dakwah. Terlebih dengan tim nasyid Izzatul Islam, majalah Al-Izzah mengambil peran untuk menjadi corong dakwah bagi tim nasyid tersebut. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan.
Memulai penerbitan majalah itu tidaklah mudah. Di awal Hanif membawa beberapa eksemplar terbitan perdana bersampul Dr. Yusuf Qardhawi ke sebuah toko buku Islam terbesar di Depok. Ulama Timur Tengah itu tengah datang ke Indonesia. Ceramahnya menjadi kupasan utama oleh Hanif dan tim redaksi.
Alih-alih diterima dengan baik, sang pemilik toko membanting majalah itu. “Mana mungkin majalah ini dibeli orang Akhi ... kualitas cetaknya nggak bagus.”
Hanif terdiam. Seluruh upaya terbaik dilakukannya. “Atau begini, Pak. Ana titip saja dulu beberapa di sini. Kalau laku, alhamdulillah. Kalau tidak, ya, tidak mengapa.”
Beberapa hari kemudian, ribuan eksemplar ludes diborong oleh beberapa toko buku. Setelah itu Al-Izzah mulai dikenal dan diterima pasar.
Hanif bersyukur Allah memberinya jalan keluar untuk permasalahan yang dihadapi. Lebih tepatnya pelampiasan. Hanif jadi sibuk. Setelah Rania pindah divisi, mereka tidak pernah bertemu. Hanya beberapa kali berpapasan di kampus tanpa saling menyapa atau bertukar senyum. Tidak ada lagi rapat di mushalla kampus. Ia merasa kehilangan.
Ia tidak punya alasan untuk menelepon Rania, karena tidak ada hal yang perlu dibahas di antara mereka berdua. Kalau dulu ia bebas menelepon akhwat itu untuk membahas program pembinaan, sekarang …?
Hanif teringat saat terakhir kali ia menelepon Rania setelah Subuh.
“Ana minta maaf kalau selama berinteraksi ada lisan ana yang tidak pada tempatnya,” ujar Hanif berusaha tetap tenang. “Ana minta maaf kalau dalam rapat terlalu banyak menuntut. Ana juga minta maaf kalau pernah membuat anti tersinggung. Insya Allah sama sekali tidak ada niatan ke arah sana.”
“Sama-sama, ana juga minta maaf kalau selama bekerja sama tidak sesuai harapan.”
“Insya Allah nggak. Ana belum pernah menemukan akhwat seperti anti.” Baru saja lisan terlepas, Hanif sudah merutuk dalam hati. Bisa-bisa Rania salah persepsi dengan kalimat barusan. Ia langsung menambahkan. “Di mana pun anti ditempatkan nanti, ana yakin anti akan bekerja, sama kerasnya seperti anti di pembinaan.”
“Insya Allah.”
Betapa Hanif ingin berlama-lama. Merekam semua pembicaraan terakhir mereka. Ia yakin akan merindukan suara seindah alunan dari surga. Namun waktu yang memisahkan. Baru lima menit menelepon, keduanya mulai tidak nyaman. Rania lebih banyak diam. Ia membiarkan Hanif banyak berbicara.
“Itu saja Ukhti, sekali lagi, maafkan ana. Semoga dosa-dosa kita diampuni Allah. Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikumussa
Hari-hari berlalu. Ada masa di mana kerinduan itu begitu kuat. Hanif hanya sanggup duduk di kasur dan memandangi alat telekomunikasi di genggaman selama bermenit-menit.
Netranya ingin melihat Rania, telinganya ingin mendengar Rania, dan penciumannya ingin menghirup Rania. Sebegitu kuat. Rindu ini bersarang terlalu lama. Memakan ruang kosong di hati hingga penuh dengan satu nama. Rania.
Sampai Hanif tidak tahan lagi dan tersungkur dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ia sadar betul tidak patut menggantikan Sang Pemilik Hati dengan makhluk-Nya. Demi mengobati hati, ia men-tarbiyah diri dengan puasa Daud dan shalat Tahajjud. Berharap Allah melimpahkan kasih sayang kepadanya.
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisiknya seraya mengangkat tangan setelah menyelesaikan Tahajjud di sepertiga malam. “Engkau yang telah menciptakan rasa ini. Engkau yang menciptakan wanita mulia. Engkau yang mensyariatkan pernikahan. Tapi kenapa rasa ini begitu perih, ya Allah? Salahkah hamba memiliki rasa ini? Salahkah hamba bila mengagumi ciptaan-Mu? Salahkah hamba?
“Jika Engkau tak mengizinkan, ambillah rasa cinta ini dari hati hamba, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa ya Rabb... Bakar dan sirnakanlah semua rasa cinta ini ya Allah.”
“Hamba tahu ya Rabb, cinta sejati hanya kepada-Mu. Hamba tahu jiwa hamba tak mampu menampung dua cinta. Cinta pada-Mu dan cinta pada makhluk-Mu. Sungguh, Engkah telah saksikan, hmaba telah mendidik diri ini untuk mencintai dakwah, Tahajjud, dan ayat-ayat cinta-Mu. Tapi kenapa Engkau uji hamba dengan terpaut pada wanita? Kenapa Engkau izinkan hati hamba tertambat padanya? Lalu kini terhempas begitu saja?
“Namun, jika memang ini dosa ya Rabb, jika cinta ini adalah maksiat, jika rasa ini adalah khianat hamba pada-Mu, tentu hamba juga takut pada siksa-Mu. Hamba takut akan neraka-Mu. Apinya menjilat-jilat.
Hanif bersujud dengan airmata tumpah di sajadah. Ada perasaan marah di sana. Juga rasa malu dan dosa. Ia ingin segera lepas dari rasa yang menyiksa.
Cintanya pada Rania telah mengisi ruang batinnya paling dalam. Ia tak menyangka sebesar itu. Baru kini ia sadari, saat dirinya tak lagi mampu menemuni Rania. Bahkan sekedar mendengar suaranya. Kini doanya hanya satu, agar Allah membantunya melupakan Rania dan mengampuni dosanya. Agar Allah memberikan aktivitas pelipur lara, yang mampu membuang jauh-jauh Rania dari hatinya.
Ia bersyukur ketika mendapat pelarian yang membuatnya lupa. Jadwal padat mengelola Al-Izzah membuat rasa rindunya terkikis.
Inilah jawaban yang Allah berikan. Hal terbaik yang ia jalani saat ini. Insya Allah akan membawanya untuk kembali mereguk manisnya iman dan ghirah untuk berdakwah.
***
Rania melangkahkan kaki ke lantai dua. Ada kajian di masjid kampus. Ia melihat jam di pergelangan, masih ada lima belas menit sebelum masuk waktu shalat Maghrib. Alih-alih duduk dan mengambil tempat untuk dirinya dan Ziya, Rania memilih duduk di balkon. Dari atas ia bisa melihat orang lalu lalang. Banyak gerobak penjual makanan yang berjejer di jalan masuk.
Ketika mengedarkan pandangan, netranya menangkap sosok yang sudah lama menghilang dari kampus. Hanif. Ikhwan itu sendirian. Tampak sedang membeli sesuatu, sepertinya gorengan. Setelahnya Hanif masuk ke pekarangan dan menghilang.
Rania baru sadar kalau selama itu ia menahan napas. Allah. Tangannya menekan dada yang berdebar pelan. Kenapa ikhwan itu masih saja memberikan getaran di hati?
Ia sudah melepaskan hasrat dalam diri dan fokus ke akademis dan dakwah. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal liqo, mengisi kajian, mengajar TPA, les privat, kuliah, praktikum, dan keputrian. Pulang malam sudah menjadi makanan sehari-hari. Saat tubuh letihnya menyentuh kasur, ia langsung terlelap. Jurnal harian yang dulu sempat ia sentuh, kini nyaris kosong. Seolah tidak punya waktu luang.
Dulu Rania berpikir, dengan ketidakhadiran Hanif di hari-harinya, akan membuat semua lebih mudah. Ternyata tidak. Awalnya bisa bertahan, tetapi lambat laun ia merasa ada yang kosong. Hilang. Kadang ia terlonjak kaget mendengar dering telepon setelah Subuh, harap-harap cemas kalau itu Hanif. Atau berangan-angan mendengar suara atau tilawah ikhwan itu ketika ia sedang di sekre mushalla.
Namun semua tidak pernah terjadi. Ia tidak pernah bertemu Hanif di kampus. Kenangan dua tahun bersama dalam satu amanah dakwah, perlahan sirna.
Ketika rasa itu kembali hadir, Rania berusaha meredam dan membuang jauh. Doanya dalam sujud panjang di sepertiga malam. “Ya Rabb, hati ini begitu sempit untuk menampung banyak cinta. Hanya cinta kepada-Mu yang menyelamatkan,”
Kini, Rania merasa Allah tengah menjauhkannya dari Hanif. Terbukti tidak pernah sekali pun bertemu dengan ikhwan itu. Sampai barusan.
“Hei!”
“Innalilllahi.”
Ziya mesem-mesem. “Afwan. Habis anti tampangnya serius gitu. Lagi ngeliatin apa, sih?” Ziya mendekat ke tembok pembatas dan melongokkan kepala ke bawah.
“Eh, bukan apa-apa.” Rania menutupi rasa gugup dengan menjauh dari balkon. “Ke dalam, yuk. Sebentar lagi Maghrib.”
Walau penasaran, Ziya mengikuti sahabatnya itu masuk.
“Oya, ana bertemu Kak Hanif di bawah tadi,” ujar Ziya seraya meletakkan tas di karpet dan duduk.
Deg!
Rania menegang sesaat. Gerakannya terhenti.
“Ran,” panggil Ziya ketika melihat sahabatnya itu masih berdiri.
“Eh, iya.” Rania berdehem untuk menutupi keterkejutan. “Anti bertemu Kak Hanif?” Ia ikut meletakkan tas dan duduk.
“Iya, tapi sekilas saja. Nggak sempat nyapa juga.”
Rania menghela napas lega. “Ooo ….”
“Kenapa Kak Hanif nggak pernah kelihatan di kampus, ya?”
Rania mengangkat bahu. Urusan Hanif, bukan urusannya.
“Apa sudah mulai skripsi terus ngambil data di luar?”
“Nggak tahu juga.”
Ziya berdehem. “Ehm, anti sudah … nggg … sudah nggak ….” Ziya menjadi gagap.
Rania tersenyum simpul. “Nggak. Alhamdulillah, ana sudah melepaskan.”
Ziya ikut tersenyum. “Alhamdulillah.
“Amin.” Ia yakin janji Allah itu pasti. Perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik. Ia hanya perlu memperbaiki diri, insya Allah jodoh terbaik akan datang. Walau itu bukan Hanif.
“Oiya, Ran, anti sudah dengar berita yang santer beredar di kampus?” Ziya beranjak masuk ke ruang shalat untuk akhwat dan duduk di sana. Rania mengikuti.
“Berita apa?” Rania jarang mengikuti gosip yang beredar.
“Itu … Dini.”
Rania mengenal Dini sebagai salah satu teman di angkatanya. Parasnya manis dan santun. Ia pernah beberapa kali bertemu. “Kenapa Dini?”
“Kabarnya dia hamil di luar nikah,” bisik Ziya, khawatir terdengar jamaah lain yang mulai berdatangan.
“Innalillahi.” Mata Rania melebar dengan tangan menutup mulut. “Anti yakin dengan kebenaran beritanya?”
Ziya mengangguk pasti. “Ana dapat info dari sumber yang bisa dipercaya.”
“Subhanallah,” lirih Rania sendu. “Terus … sekarang bagaimana keadaan Dini?”
“Laki-lakinya mau bertanggung jawab, tapi tetap saja. Nama baik keluarganya jadi tercoreng.”
Rania menarik napas panjang. Allah. Ia menyesal karena dulu memilih untuk menghindar kumpul-kumpul dengan teman satu angkatan. Ia lebih memilih menyendiri di mushalla agar tidak terwarnai dengan lingkungan. Ia ingin mendekat dengan Rabb-nya, tetapi malah meninggalkan teman-teman yang mungkin butuh didekati.
Rania teringat ketika tahun pertama kuliah pernah melihat teman satu jurusan pacaran di depan mata. Benar-benar tidak punya rasa malu, berpelukan di muka umum. Waktu itu ia langsung menegur si perempuan, sayangnya temannya itu tidak menggubris nasihat Rania.Malah menyuruh Rania untuk mengurus urusannya sendiri, jangan mengurus urusan orang lain.
Sedih sebenarnya. Bagaimana perempuan di zamannya sudah melepas rasa malu dari diri mereka atas nama cinta. Padahal Islam begitu memuliakan perempuan. Islam memelihara perempuan dengan menyariatkan menutup aurat. Islam menjaga perempuan dengan melarang berdua-duaan dengan yang bukan mahrom. Islam memberikan solusi menikah, bukan pacaran. Islam menempatkan perempuan di tempat yang tinggi. Namun kadang perempuan itu sendiri yang merendahkan diri dengan membiarkan laki-laki menyentuhnya.
Astaghfirullah.
Rania berjanji dalam hati, ia harus merangkul semua. Tidak hanya mahasiswa berjilbab, tetapi juga yang belum. Karena setiap orang berhak untuk mendapatkan pencerahan. Hidayah Allah bisa datang dari mana saja, ia hanya sebagai perantara.
Azan Maghrib merdu berkumandang. Rania membuka bekal ifthor yang disiapkan. Sudah tiga minggu ia puasa Daud, sebagai upaya riyadhoh melupakan Hanif.
Di lantai bawah, Hanif juga melakukan hal yang sama. Ia membuka bungkus gorengan yang dibelinya di dekat masjid. Ia sedang puasa Daud.
Karena bukan waktu puasa Senin dan Kamis, sepertinya hanya Hanif dan Rania yang berbuka puasa di masjid saat ini. Ternyata Allah masih menyisakan kebersamaan, walau dalam diam.
***
Hanif menatap kursor yang berkedip-kedip di hadapan. Ia melirik kertas di meja yang penuh coretan tangan. Ide tulisan sudah ia tuangkan, tinggal mengembangkanny
Jiwa-jiwa Hunain.
Hanif terinspirasi dari perang Hunain yang dialami Rasulullah dan kaum muslimin. Tidak lama setelah Fathu Makkah, mereka kembali harus berperang. Jumlah yang banyak membuat kaum muslimin meremehkan lawan. Hal ini membuat mereka kocar-kacir karena terlena dengan kemenangan sebelumnya, tidak menyangka strategi perang musuh menghajar habis-habisan pasukan.
Allah sendiri menyebutkan tentang perang ini di dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah. "Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.
"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
"Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya
Walau kemenangan berada di kaum muslimin, tetapi mereka mengalami kerugian besar dari segi nyawa. Banyak dari mereka yang gugur.
Hanif mulai mengetikan jemari di atas keyboard. Pikirannya berkelana ke lebih seribu empat ratus tahun yang lalu. Mencoba menghadirkan suasana pada masa itu di hatinya.
Sejak majalah Al-Izzah berdiri, Hanif bertanggung jawab terhadap isi. Dulu ia harus berjuang untuk mencari dan menulis semua artikel, tentu dibantu dengan teman lain. Sekarang lebih mudah. Banyak pembaca dan ustadz yang ikut mengisi. Hanif tinggal menambal beberapa tulisan di kajian utama. Plus satu kolom khusus yang dipegangnya sampai saat ini. Kolom Jiwa-Jiwa. Kolom ini disukai banyak pembaca.
Hanif memakai Abu Hanifah, disingkat AH, sebagai nama pena. Sejak dulu ia kagum dengan ulama besar Mazhab Hanafi tersebut. Selain itu, ada kemiripan dengan namanya.
Ketika sedang asyik mengetik, tiba-tiba lintasan pikiran hadir di kepala. Sekarang majalah Al-Izzah sudah tersebar sampai ke pelosok negeri. Oplah mencapai 14.000 eksemplar per bulan. Alhamdulillah, berkat ikhtiar yang sungguh-sungguh
Hanif menarik napas panjang. Jangan bermain api lagi. Sudah cukup ia merasakan penderitaan sakit menahan rindu. Ia tidak mau lagi. Bukan urusannya Rania membaca atau tidak. Bukan itu tujuannya menulis.
Rania tetap akan menjadi sebuah kenangan indah. Seorang akhwat yang pernah mampir dihatinya dan meninggalkan jejak cukup dalam. Hanya setakat itu.

