Info Lengkap Novel Rania
Baca: Part1 - Part2 - Part3 - Part4 - Part5

Part6 - Part7 - Part8 - Part9 - Part10

Perempuan itu sadar betul belum waktunya rasa itu hadir. Tetapi ia tidak kuasa mencegah. Bagai virus yang menyebar melalui aliran darah. Nama Laki-laki itu terukir jelas, bukan hanya di pikiran, tapi juga hatinya.
Semua hanya dapat ia adukan kepada Sang Pemilik Cinta. Rasa ini begitu kuat tertancap. Meyiksanya dengan sangat. Hanya sedan pada sujud panjang di sepertiga malam yang menjadi penawar.

*
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisik laki-laki itu. “Ambil rasa ini dari hatiku, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa.”

**
Apakah benar hati bisa melupakan begitu saja?
Akankah masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan?
Ketika hati ikhlas dan berserah, pilihan-Nya menjadi yang terbaik

Novel Rania Part 5

Bab 5 - Debar Menggoda
.
“Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.” [Qaaf: 40]
.
.
Tahun 1998.
.
.
“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” Hanif membacakan sebuah hadis riwayat Al-Hakim kepada para ikhwan di musala kampus.
Mata Hanif memindai satu per satu wajah adik tingkatnya itu. “Allah memerintahkan kita untuk menahan pandangan. Sudah jelas larangan tersebut termaktub dalam Al-Qur’an,” lanjutnya. “Apabila telanjur melihat, janganlah mengikuti pandangan yang pertama dengan pandangan berikutnya.”
Hanif menarik napas. Sesungguhnya tausiah ini lebih kepada dirinya sendiri yang mulai lalai. Ia masih bisa menjaga netra dari perempuan lain, tetapi sulit untuk akhwat yang satu itu. Rania.
“Tahan mata dari hal-hal yang Allah haramkan. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah melihat yang diharamkan.”
“Kalau masih belum bisa, akhi?” tanya seorang ikhwan.
Hanif tersenyum. “Ada satu hal yang bisa membuat kita menahan pandangan dan memelihara kemaluan.”
Semua yang hadir menunggu kelanjutan seraya menahan napas.
“Menikah.”
“Yaaah ….” Desah kecewa keluar dari lisan dengan wajah memelas.
Hanif tersenyum kecil. “Loh, benar, kan? Menikah membuat seorang laki-laki lebih tenang hidupnya, karena sudah ada bidadari surga yang menemani.”
“Masih kuliah, akhi,” seloroh salah satu ikhwan.
“Kalau begitu perbanyak istighfar, puasa, dan Tahajjud.” Lagi-lagi nasihat ini ditujukan untuk dirinya.
Ia merasa yakin bisa mengendalikan hati. Tetapi kenyataan berbanding terbalik. Sering berkomunikasi berdua dalam rapat menimbulkan getaran lain. Setiap pertemuan menjadi hal yang ditunggu. Ia punya alasan untuk tetap terhubung dengan Rania.
Ia tidak pernah membicarakan hal-hal seperti itu dengan akhwat lain. Catat. Tidak pernah. Hanya Pembicaraan yang awalnya hanya seputar program kerja, mulai dibumbui hal-hal remeh yang tidak ada hubungan dengan rohis. Pertanyaan ringan seputar perkuliahan, praktikum, dosen, dan les. Bagi beberapa orang mungkin hal biasa, tetapi untuk seorang Hanif, itu luar biasa
Rania. Kenapa …? Karena akhwat itu istimewa dihatinya. Rania punya semua kriteria yang diinginkan. Cantik, aktif, baik, cerdas, dan tilawahnya tartil, ia pernah tanpa sengaja mendengar ketika di mushalla.
Hanif ingin mengetahui semua hal tentang Rania. Tetapi masih menahan diri.
Ia sadar rasa ini tidak dibenarkan. Cinta sebelum waktunya bisa menimbulkan fitnah dan zina. Tetapi perasaan itu semakin kuat. Ia semakin dekat dengan Rania. Membayangkan akhwat itu menjadi pendampingnya kelak.
Astaghfirullah.
Angan-angannya mencoba menipu. Dan ia mengikuti.
***
Rania berjalan menyusuri jalan setapak menuju danau dekat kampus. Tempat ia biasa menyendiri dan merenung. Tentang banyak hal. Keluarga, kuliah, dakwah, dan akhir-akhir ini… hatinya.
Ia duduk di atas undakan, menatap lepas ke air yang mengilap tersiram cahaya pagi seraya mengembuskan napas lamat-lamat. Tanpa terasa sebentar lagi ia menyelesaikan tahun kedua kuliah. Cepat sekali waktu berlalu.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup… juga hatinya.
Tidak terpikir akan berada dalam keadaan seperti ini. Sejak dulu ia tidak pernah dekat dengan lawan jenis. Jangankan pacaran, berdua-duaan dengan yang bukan muhrim saja tidak.
Rania belum merasakan jatuh cinta. Ia tidak tahu bagaimana rasanya.
Ia membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku seukuran novel. Jumlah halaman tidak banyak, tetapi isinya… masya Allah. Ia banyak mendapat pencerahan ketika menyelaminya. Tentang pergerakan dakwah di dunia.
Buku ini spesial, selain karena apa yang termaktub di dalamnya, ada satu lagi. Bacaan ini adalah pemberian seseorang yang entah sejak kapan memenuhi buku harian, terlebih hatinya.
Ustadz. Begitu Rania menuliskan nama ikhwan itu di berlembar-lembar kertas.
Ia menarik napas perlahan dan meraba dada yang detaknya selalu berbeda setiap mengingat ikhwan berkulit sawo matang itu.
Debar halus selalu muncul di hati Rania.
Ia mengagumi sosok Hanif.
Ia terpukau.
Sekarang perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ia sering tersenyum sendiri ketika mengisi jurnal harian yang berisi ikhwan itu di dalamnya. Jantungnya berdebar pelan ketika nama Hanif disebutkan dalam pembicaraan. Merona dengan perhatian yang diberikan. Rania ingat ketika itu sedang flu saat rapat.
“Ukhti sedang tidak enak badan?” Hanif khawatir.
“Iya, sudah beberapa hari ini flu.”
“Sudah minum obat?”
“Belum, hanya madu saja.”
“Demam juga?”
“Kemarin demam.”
“Kalau sedang sakit seharusnya ukhti bilang. Rapat bisa diundur lain waktu.”
“Tidak apa-apa, sudah lebih baik.”
“Ibu ana biasanya membuat minuman jahe hangat dan madu kalau ana sedang flu.”
“Terima kasih resepnya, nanti ana coba.”
“Lain kali bilang kalau anti sedang sakit.”
Perhatian Hanif membuatnya gerimis. Hatinya berubah.
Astaghfirullah.
Rasa ini perlahan tapi pasti semakin memenuhi sanubari, dan ia tidak kuasa menghentikan.
***
Selesai membaca zikir pagi Rania membereskan perlengkapan shalat. Ia beranjak ke petiduran Maryam dan membangunkan adiknya yang tertidur kembali setelah Subuh.
“Maryam… bangun. Ayo siap-siap ke sekolah.” Rania mengguncang pelan bahu adiknya.
“Hmmm….” Maryam masih mengantuk. Ia mengeratkan pelukan pada guling.
“Maryam.” Rania kembali membangunkan adiknya, tetapi tidak ada respon. Ia melangkah ke meja untuk mengambil gelas berisi air. Dituang sedikit ke tangan dan dipercik ke wajah Maryam.
“Hmmm!” protes Maryam ketika sesuatu yang dingin menyentuh kulit wajah.
“Bangun.”
Maryam mengucek mata. “Mbak Rania!” protesnya.
“Duduk dulu. Masih ingat, kan, ketika tidur ada tiga simpul setan yang mengikat. Kalau kamu duduk dan membaca doa maka lepas satu ikatan. Kalau lanjut wudu, lepas dua ikatan. Kalau habis wudu langsung shalat, maka lepas tiga ikatan,” nasihat Rania. “Ayo wudu dulu sana.”
Dengan malas Maryam beranjak. Membuat Rania tersenyum.
Ketika sedang membereskan tempat tidur, telepon rumahnya berdering. Rania bergegas keluar dan menuju ruang tengah.
“Biar Rania saja, Bu.” Ia melihat ibunya sedang berkutat di dapur menyiapkan sarapan.
Deringnya kembali terdengar. Ia menarik napas pelan, mempersiapkan hati. Ia tahu betul siapa yang terbiasa meneleponnya setelah Subuh.
“Halo. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Tebakannya tepat. Ia mengenal suara Hanif dengan sangat baik. Telepon subuh ini semakin terpola. Awalnya mereka hanya membahas program kerja, tetapi lama kelamaan mulai mengobrol hal di luar itu.
“Iya, akhi, ada yang bisa ana bantu?”
“Maaf ganggu pagi-pagi.”
Rania tersenyum kecil. Ia sama sekali tidak merasa terganggu. Senang malah. “Nggak, kok.”
“Ana mau menanyakan bagaimana pertemuan dengan Naimah?”
Naimah adalah adik Hanif yang nomor lima. Kemarin Hanif minta tolong pada Rania untuk bertemu dan berbicara dengan Naimah.
“Ya … biasa aja. Ngobrol tentang kampus, kegiatan rohis, kuliah, praktikum …,” jelas Rania. Naimah sebentar lagi masuk kuliah. Perempuan berhijab rapat itu ingin mengenal dunia kampus. Selain itu brainstorming tentang pilihan jurusan.
“Terus Naimah cerita apa saja?” Sebenarnya Hanif bisa saja bertanya kepada adiknya itu. Tetapi dengan begini ia punya alasan untuk menelepon Rania.
“Naimah anaknya ceria dan semangat. Banyak yang dia ceritakan. Terutama tentang kegiatan di rumah.”
“Contohnya?”
“Apa, ya? Dia cerita kalau tugasnya di rumah itu mencuci pakaian akhi. Dia senang karena sering menemukan harta karun saat mencuci.” Rania tersenyum lebar membayangkannya.
Hanif tertawa kecil. “Iya, kalau dia menemukan uang di cucian baju ana, maka itu menjadi miliknya.” Ia mendapat uang saku dari mengajar privat, senang bisa berbagi dengan adik-adiknya.
Rania terkesiap mendengar tawa dari ujung sana. Hampir tidak pernah ia mendengar gurau dari Hanif. Ia menyukai renyah suara barusan.
“Naimah bertemu dengan siapa saja di kampus?”
“Ada beberapa akhwat di mushalla.” Ketika itu ada Ziya dan akhwat lain di sana. Mereka mengobrol bareng. Sepulang Naimah, sahabatnya itu malah menginterogasi.
“Kenapa harus anti?” tanya Ziya setelah Rania menjelaskan keberadaan Naimah di sana.
Rania tidak punya alasan yang tepat. “Mungkin karena dia tidak banyak kenal dengan akhwat di kampus,” kilahnya. “Jadi dia minta tolong ke ana.”
Ziya menarik napas pelan. “Bukan karena ada apa-apa antara anti dan dia?”
Rania tidak menjawab. Ia sendiri tidak pasti.
“Anti masih menyukai dia?”
Rania memang tidak bisa menyimpan rahasia. Ia sering mencurahkan isi hati kepada sahabatnya itu. Termasuk perihal Hanif.
“Anti tahu, kan, kalau ini tidak benar?” cecar Ziya. Ia sayang dengan sahabatnya itu. Ia tidak mau Rania salah melangkah. Membiarkan rasa yang belum waktunya bersemi.
Rania mendesah pelan. Ia tahu. Tapi tidak mudah untuk menghindar.
“Anti harus ingat tujuan kita berdakwah, ikhlas karena Allah, jangan dicampur dengan niat lain. Rugi ukhti ... rugi .... Saran ana, jangan berkomunikasi untuk hal-hal yang tidak penting. Sebisa mungkin menghindar,” tutur Ziya serius.
Nasihat yang tengah diabaikan Rania. Karena saat ini ia membicarakan hal yang semestinya tidak mereka bincangkan di telepon.
“Jazakillah khair, ukhti, untuk bantuannya,” ujar Hanif di ujung sana.
“Wa iyyaakum. Ana senang bisa ngobrol sama Naimah. Dia masih muda dan bersemangat. Ana yakin dia akan baik-baik saja.”
Rania sadar imannya masih tipis. Sebentar ia ingat, sebentar lupa. Ia ingin menghilangkan Hanif dari pikiran, tetapi belum bisa. Tidak selagi ikhwan itu masih memberikan perhatian lebih kepadanya.
“Baik, assalamu’alaikum.” Hanif menutup telepon ketika Rania membalas salamnya. Bukan tanpa alasan ia memercayakan Naimah kepada Rania. Ia merasa Rania orang yang tepat. Selama berhubungan dengan akhwat bersuara lembut itu, ia hampir tidak menemukan cela.
Hanif berharap adiknya itu bisa menjadi dekat dan menjadikan Rania panutan. Karena menurutnya, Rania itu paripurna.

Info Novel Rania

Ingin Tahu Isi Novel Rania? Semua Dibongkar di sini

Ketika seorang perempuan dan Laki-laki yang memegang teguh Agamanya jatuh cinta

Jadi Ketika Sujud Panjangmu Menjadi Jawaban Dari Ke-GALAU-an Mu