Info Lengkap Novel Rania
Baca: Part1 - Part2 - Part3 - Part4 - Part5

Part6 - Part7 - Part8 - Part9 - Part10

Perempuan itu sadar betul belum waktunya rasa itu hadir. Tetapi ia tidak kuasa mencegah. Bagai virus yang menyebar melalui aliran darah. Nama Laki-laki itu terukir jelas, bukan hanya di pikiran, tapi juga hatinya.
Semua hanya dapat ia adukan kepada Sang Pemilik Cinta. Rasa ini begitu kuat tertancap. Meyiksanya dengan sangat. Hanya sedan pada sujud panjang di sepertiga malam yang menjadi penawar.

*
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisik laki-laki itu. “Ambil rasa ini dari hatiku, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa.”

**
Apakah benar hati bisa melupakan begitu saja?
Akankah masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan?
Ketika hati ikhlas dan berserah, pilihan-Nya menjadi yang terbaik

Novel Rania Part 7

Bab 7 Rasa Kian Bersemi
.
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya?…. [Az-Zumar/39: 9]
.
.
Bulan Mei merupakan puncak reformasi bangsa ini. Memberikan suka, tetapi juga menyisakan duka. Tidak akan pernah lepas dari ingatan, betapa beberapa kota besar telah berubah wajah menjadi mengerikan.
Penjarahan barang terjadi di mana-mana, tanpa ada yang bisa mencegah. Pembakaran toko, kantor, dan rumah. Pelecehan seksual pada etnis tertentu. Kematian beberapa mahasiswa yang tidak jelas pelakunya. Masyarakat Indonesia dari segala penjuru ikut merasakan kepedihan yang melanda. Ucapan belasungkawa terus berdatangan.
Sebagai bangsa yang kuat, tidak berlama-lama hanyut dalam kesedihan. Semua bangkit untuk memperbaiki keadaan. Pun kampus Rania. Setelah reformasi didengungkan, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengisinya dengan terus mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik.
Agenda dakwah kampus tidak akan pernah berhenti, justru semakin menggeliat, menampakkan eksistensinya. Program pembinaan terus digulirkan, untuk mengader aktivis dakwah menjadi muslim tangguh. Dan … rapat dengan Hanif, kembali dijadwalkan.
“Ini persiapan daurah untuk mahasiswa baru.” Hanif mengangsurkan proposal dari bawah hijab.
Rania mengambil dan membuka lembaran. “Baik, nanti ana sampaikan ke panitia akhwat.”
“Apakah ada lagi yang ingin dibicarakan sebelum rapat ditutup?”
Rania mengernyitkan dahi. Sedari mulai rapat, intonasi suara Hanif terdengar datar, kaku, dan terkesan berjarak.
“Tidak ada.”
“Baik. Kita tutup rapat dengan hamdalah, istighfar, dan kafaratul majelis.”
Rania membereskan kertas dan alat tulis yang berserakan. Ia menarik napas panjang ketika mendengar suara pintu dibuka dan ditutup dari ruang ikhwan. Hanif sudah pergi. Ia menghentikan aktivitas dan terpekur, merenungkan perubahan sikap ikhwan itu.
Sejak Presiden mengundurkan diri, ikhwan itu tidak pernah lagi menghubunginya. Tidak satu kali pun. Membuat Rania cemas dan hampir nekat mengontak Hanif terlebih dahulu. Bersyukur rasa malu mencegahnya. Walau pelupuknya sempat basah ketika sujud panjang di sepertiga malam, mengkhawatirkan keadaan laki-laki yang telah menanamkan getaran dalam hati.
Rania sadar bahwa apa yang dirasakan tidak boleh ia pupuk hingga tumbuh subur. Fitrah yang Allah berikan seharusnya ia simpan untuk pasangan halalnya kelak. Awal kekaguman pada sosok Hanif bertransformasi dalam bentuk lain. Ia tidak pasti apa, tetapi cukup membuat debar di dada bila berada di dekatnya.
Rania peduli dengan kakak tingkatnya itu. Ia tidak berani menyebut suka apalagi cinta. Hal itu terlalu jauh baginya.
Melihat Hanif menjaga jarak seperti saat ini, membuat Rania tafakur. Ia khawatir ada perbuatan yang terasa kurang pantas atau tidak pada tempatnya, sehingga Hanif menjauh. Ia segan untuk bertanya secara langsung. Ia berharap dengan instensitas rapat yang semakin sering, Hanif akan kembali seperti yang dulu. Ia menunggu telepon di rumahnya kembali berdering setelah Subuh.
***
Hanif menutup kuapnya dengan tangan. Angin sepoi-sepoi dari kipas angin membuatnya terangguk-angguk menahan kantuk. Duduk bersila dengan punggung bersandar ke dinding masjid, ia menyeka mata yang berair. Netra dan tubuh memohon untuk rehat sejenak. Sejak pukul tiga dini hari ia belum memejamkan mata barang sepicing. Dua malam menjadi imam salat Tahajud di salah satu daurah sebuah kampus di daerah selatan Jakarta. Malam sebelumnya ia juga begadang di asrama ikhwan-tempat kosnya sekarang, membimbing adik-adik tingkat mabit atau malam bina iman takwa. Lagi-lagi menjadi imam Tahajud.
Ia tidak hendak mengeluh, malahan bersyukur karena Allah membuatnya selalu dekat dengan jamaah Tahajud. Membuatnya selalu ingat. Kadang riya’ dan ujub menyelusup secara halus, membuatnya merasa lebih baik dari teman-teman seperjuangan. Hanya karena dirinya menjadi langganan imam salat di sepertiga malam. Sekuat pikiran ia berusaha menjauhkan penyakit hati dan memohon ampunan kepada Allah. Memperbanyak istighfar. Meluruskan niat.
Ia hanya ingin bertemu dengan Rabb-nya ketika Dia turun ke langit dunia. Mengadu. Merendahkan diri dalam sujud panjang. Memohon. Doa-doa panjang untuk diri sendiri, keluarga, umat muslim di dunia, dan pasangan hidupnya kelak.
Hanif mengembuskan napas berat. Ia menginginkan seorang istri yang kelak bisa bersinergi, mengemban amanah dakwah bersama. Ia butuh seseorang yang kuat dan mandiri, karena perjuangan tidak akan pernah berkesudahan. Ia butuh penyokong, agar tidak berbelok apalagi berhenti di tengah jalan.
Dulu Hanif pernah berharap itu Rania, hatinya dipenuhi dengan nama akhwat itu. Namun ghirah ketika aksi beberapa bulan yang lalu membuatnya dihantam kenyataan, bahwa dirinya terlalu lemah sebagai seorang ihwan yang mengaku kader dakwah. Hanyut dalam rasa yang tidak jelas. Sementara teman-teman aktivis yang lain sibuk berjuang di jalan Allah. Malu rasanya.
Tekadnya untuk menyirnakan Rania di hati membuahkan hasil. Hanif menempa iman dengan Tahajjud setiap malam dan berpuasa Daud. Ia memenuhi setiap undangan untuk mengisi kajian dan menjadi imam salat Tahajjud berjamaah. Hari-harinya dipenuhi dengan dakwah. Ia tidak lagi memikirkan hal lain. Prioritasnya kali ini sangat jelas. Memenuhi panggilan jihad.
Jodohnya sudah Allah tetapkan. Ia tidak ambil pusing untuk sesuatu yang sudah pasti. Tidak pandang siapa pendampingnya kelak, Hanif yakin itu yang terbaik yang Allah berikan. Ia hanya perlu memperbaiki keimanan, karena Allah tidak pernah salah timbangannya. Ia akan mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan.
Bila Hanif menginginkan jodoh yang paripurna, maka ia sendiri harus menjadi paripurna.
Ketika bertemu Rania saat rapat di sekre rohis, Hanif sudah bisa mengendalikan diri. Tidak ada lagi debar itu. Ia lebih fokus pada agenda rapat. Memang itu tujuannya. Pembinaan di kampus harus mendapat prioritas, dan itu tidak bisa dilakukan bila pikirannya terpecah. Jangan sampai lagi hatinya tergoda untuk bermain api. Tidak sebelum waktunya.
Hanif menjengit dan merogoh saku ketika ponselnya berbunyi. Sudah beberapa pekan ini ia memiliki ponsel, hasil menabung dari uang les privat dan sedikit tambahan dari orangtua. Bukan model terbaru, tetapi bisa dipakai untuk berkomunikasi.
“Iya, Mi?” sahut Hanif setelah mengucapkan salam.
“Lagi di mana?”
“Masih di masjid kampus di Jakarta.”
“Sudah selesai daurahnya?”
“Sudah. Ada apa, Mi?”
“Kamu langsung pulang?”
“Belum tahu, mungkin mau istirahat dulu sebentar.”
“Istirahat di rumah saja. Umi masak perkedel jagung, kesukaan kamu. Makan di rumah, ya?”
Mata Hanif berbinar seketika mendengar perkedel jagung buatan uminya. Makanan yang bisa membuat air liurnya menetes hanya dengan membayangkan. Paling enak sedunia. “Insya Allah, Mi. Hanif pulang. Jangan habiskan perkedel jagungnya.”
Umi tertawa pelan. “Makanya cepat pulang.”
Hanif mematikan sambungan setelah mengucapkan salam dan berjanji untuk pulang.
“Mau ke mana antum?” tanya Heri ketika melihat sahabatnya itu mengambil helm di rak teras masjid.
Hanif menoleh. Mereka baru saja selesai kajian dhuha, ia berencana tidur sebentar sebelum Zuhur dan pulang selesai salat. Sekarang agendanya berubah. “Afwan, ana pulang duluan. Sudah ditunggu umi ana.”
“Nggak ngantuk antum?” Heri khawatir karena Hanif belum istirahat sama sekali.
“Insya Allah nggak. Ana wudhu dulu sebelum berangkat.”
“Hati-hati.” Heri menepuk pundak sahabatnya pelan.
Mereka berjabat tangan dan berpelukan erat. “Jangan ngebut,” pesan Heri ketika melepas Hanif.
Hanif mengangguk singkat. Ia wudhu dulu sebelum ke parkiran. Alhamdulillah kantuknya berkurang.
“Bismillah,” bisiknya ketika memasang helm dan menaiki Khalid, motor kesayangan. Insya Allah ia akan sampai di rumah dalam satu jam. Ia membaca doa naik kendaraan dan melajukan motor keluar masjid perlahan.
Selama perjalanan ia kembali mengulang hafalan. Selain berusaha menghilangkan kantuk, juga menjaga agar kalamullah itu tidak hilang dari memorinya.
Mata semakin redup. Kuap semakin sering.
Ia berusaha membuka netra. Jangan sampai tertidur lagi ketika berkendara. Sudah pernah hal itu terjadi. Akibatnya ia bangun di rumah sakit dengan tangan retak dan kaki terkilir. Kecelakaan. Tanpa sengaja menabrak truk yang tengah parkir di pinggir jalan. Tidak sengaja karena semua terjadi dalam keadaan ia tengah tertidur.
Sebentar lagi sampai.
Ia mempercepat laju motor.
Kantuk itu kembali menyerang. Matanya memicing, dengan setengah kesadaran tersisa. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Hanya suara ban berdecit ngeri, teriakan panik orang-orang, tumbukan kuat, suara pecahan kaca, dan rasa sakit yang amat sangat. Lalu gelap.
***
“Ada yang menonton Si Doel Anak Sekolahan?” tanya Rania kepada peserta liqo SMA siang ini. Mereka melingkar di mushalla sekolah ketika yang laki-laki sedan shalat Jumat di masjid.
Beberapa tangan terangkat di udara.
“Tahu siapa saja pemainnya?” Rania memperhatikan wajah binaannya satu per satu sembari tersenyum kecil.
“Rano Karno!”
“Maudy Koesnaedy!”
“Mandra!”
“Suti Karno!”
“Sarah!”
“Eh, Sarah bukan nama aslinya, tahu!” protes temannya.
Rania menenangkan peserta yang mulai berisik. “Sudah, sudah. Kalau salah juga nggak apa-apa.” Ia memberi jeda. “Nah, kalau nama anak-anaknya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, ada yang tahu?”
Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya saling melirik satu sama lain.
Rania kembali tersenyum, seperti dugaan, belum banyak yang membaca kisah hidup Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Remaja sekarang lebih tertarik mengikuti kehidupan artis.
“Hasan dan Husein,” celetuk seorang siswi.
“Itu cucunya, kali,” sergah teman yang lain.
“Iya, kalau itu cucu Rasulullah,” Rania kembali menengahi. “Nah, kenapa kebanyakan orang lebih hapal nama artis dibanding nama anak Rasul?”
Semua menunduk, cemas diminta menjawab.
“Ayo, jawab aja, nggak akan dihukum kok,” canda Rania.
“Ka-karena dilihat setiap hari di televisi, Mbak,” sahut peserta ragu.
Rania mengangguk. “Iya, karena kita terbiasa mendengar dan melihat setiap hari, jadinya hapal, tapi … apakah ada manfaatnya?”
Kepala yang terbungkus kerudung putih itu kembali tertunduk.
“Apakah akan ditanyakan oleh malaikat Munkar dan Nakir ketika di alam kubur?”
Kepala-kepala semakin tertunduk.
“Apakah Allah akan menanyakan siapa nama pemeran film tertentu?” lanjut Rania. “Tidak, kan?”
“Nggak, Mbak.”
“Kita juga bisa kok tahu tentang sejarah hidup Nabi Muhammad, asalkan setiap hari membacanya. Kapan beliau lahir, siapa istri dan anak-anaknya, kapan diangkat menjadi rasul, kapan hijrah ke Madinah, perang apa saja yang beliau ikuti, kapan beliau pernah sakit, bagaimana perlakuan beliau kepada istri dan sahabat-sahabatnya, bagaimana beliau mati? Semua lengkap dalam buku sirah.”
Kepala yang menunduk menjadi antusias dan mendongak.
“Jangan sampai kita lebih mengenal kehidupan artis dibanding kehidupan Rasul yang mulia. Karena panutan dan teladan sesungguhnya adalah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.”
Semua kepala mengangguk-angguk tanda mengerti.
Rania tersenyum puas. Alhamdulillah. Saat-saat mengisi tausiah seperti ini imannya kembali terisi. Nasihat yang diberikan sesungguhnya lebih untuk diri sendiri. Ilmunya masih sedikit. Seperti setetes air di lautan. Sungguh tidak ada yang patus disombongkan.
Selesai mengisi liqo di SMA-nya yang dulu, Rania menuju sebuah bimbingan belajar tempat ia mengajar. Kegiatannya padat. Ia bertekad tidak memberi waktu luang untuk hal yang sia-sia. Setiap kesempatan harus manfaat. Kadang ia harus pulang malam karena amanah yang diemban.
Bukan mengeluh, Rania malah bersyukur. Semua aktivitas membuat pikirannya teralih dari memikirkan sebuah nama. Ia tidak mau terlena. Tanggung jawab dakwah semakin berat ke depannya. Ia tidak mau mengotori hati dengan berharap terlalu jauh kepada kakak tingkatnya itu. Ia tidak mau mengeluarkan air mata hanya karena sebuah rasa yang tidak berbalas. Cemas memikirkan seseorang yang belum tentu memiliki perasaan yang sama dengannya.
Sekarang Rania menyerahkan semua kepada Pemilik Seluruh Jiwa.
***
“Ran! Rania!”
Rania menoleh dan mendapati Ziya sedang berjalan cepat ke arahnya. Koridor kampus yang cukup ramai membuat tubuh mungil sahabatnya itu bergerak lincah, menghindari kerumunan.
“Kenapa?” Rania melihat raut Ziya yang sedikit cemas.
Ziya mengatur napasnya yang ngos-ngosan. “Sudah tahu kabar terbaru?”
Rania menggeleng.
“Kak Hanif kecelakaan!”
“Innalillahi …,” spontan Rania berbisik. “Kecelakaan?” Jantung berdetak dua kali lebih cepat. Risau menyelimuti wajahnya.
“Iya, masuk rumah sakit.”
Baru saja ia belajar menata hati dan berniat menjauh dari ikhwan itu. Namun sekarang … ia tidak bisa untuk tidak peduli.
“Zi … temani aku ke rumah sakit sekarang,” pinta Rania pada sahabatnya itu.
Ziya tertegun, tetapi dengan cepat mengangguk. “Baik.”
Rania bernapas lega. Hanya Hanif yang ada dipikirannya saat ini.

Info Novel Rania

Ingin Tahu Isi Novel Rania? Semua Dibongkar di sini

Ketika seorang perempuan dan Laki-laki yang memegang teguh Agamanya jatuh cinta

Jadi Ketika Sujud Panjangmu Menjadi Jawaban Dari Ke-GALAU-an Mu