Info Lengkap Novel Rania
Baca: Part1 - Part2 - Part3 - Part4 - Part5

Part6 - Part7 - Part8 - Part9 - Part10

Perempuan itu sadar betul belum waktunya rasa itu hadir. Tetapi ia tidak kuasa mencegah. Bagai virus yang menyebar melalui aliran darah. Nama Laki-laki itu terukir jelas, bukan hanya di pikiran, tapi juga hatinya.
Semua hanya dapat ia adukan kepada Sang Pemilik Cinta. Rasa ini begitu kuat tertancap. Meyiksanya dengan sangat. Hanya sedan pada sujud panjang di sepertiga malam yang menjadi penawar.

*
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisik laki-laki itu. “Ambil rasa ini dari hatiku, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa.”

**
Apakah benar hati bisa melupakan begitu saja?
Akankah masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan?
Ketika hati ikhlas dan berserah, pilihan-Nya menjadi yang terbaik

Novel Rania Part 9

Bab 9 Harus Berpisah
.
Dari al-Hasan al-Bashri berkata, “Kami tidak mengetahui amal ibadah yang lebih berat daripada lelahnya melakukan shalat malam dan menafkahkan harta ini.”
.
.
Tiga bulan berlalu. Hanif kembali ke kampus. Ia bersyukur masih Allah berikan kesempatan untuk hidup. Tidak main-main kecelakaan kali ini, ia mengalami gegar otak sampai tidak bisa berjalan lurus ketika pengobatan di rumah sakit. Dunia terasa bergoyang. Sistem keseimbangannya
Masa bed rest di rumah membuatnya tidak bisa beraktivitas di luar. Ia harus banyak tidur. Akhirnya ia ketinggalan mata kuliah, absen mengisi daurah dan menjadi imam Tahajjud. Tidak juga mengisi kajian atau liqo. Hanya ibadah harian. Kekosongan itu membuat imannya menurun. Apalagi ditambah dengan rutinitas menelepon Rania setiap pekannya.
Bukan tanpa alasan, ia perlu menghubungi Rania sebagai penyambung informasi di kampus. Program pembinaan harus tetap berjalan, dan ia butuh berkoordinasi dengan akhwat itu. Namun semua menjadi bumerang. Ia menjadi ketergantungan. Janjinya untuk menjauhi Rania dan fokus ke dakwah mulai terkikis.
Membunuh sepi, Hanif menjadikan Rania sebagai teman bicara. Semakin berinteraksi, ia semakin yakin, akhwat itu perempuan yang tepat untuk dirinya. Penilaiannya tidak pernah salah. Keinginan itu kembali hadir, menjadikan Rania pendamping hidup. Cepat atau lambat ia perlu menyampaikan ini, pikirannya ingin tahu apakah akhwat itu mempunyai rasa yang sama.
Kelas sudah ramai ketika Hanif masuk. Tahun ini ia mengambil mata kuliah yang sama dengan Rania. Tidak sengaja sebenarnya, karena ia tidak tahu saat mengambil mata kuliah itu. Hatinya riang. Ada kesempatan satu semester untuk mengenal Rania di kelas.
Hanif mengambil tempat duduk di belakang, seperti biasa. Tidak masuk tiga bulan membuatnya tidak mengerti pelajaran yang dibahas. Apalagi kepalanyaa terasa melayang, masih dalam proses penyembuhan.
Selama kelas berlangsung, hanya Rania yang ia perhatikan. Bagaimana akhwat itu bergerak, berbicara, tersenyum, dan mendengarkan dosen….
Tiba-tiba sesuatu mengusik hatinya. Hanif mengambil kertas dan menuliskan sebuah kalimat. Ia melipat lembaran dan menepuk bahu seorang mahasiswa yang entah siapa namanya.
“Tolong berikan ke Rania,” ujarnya lirih seraya mengangsurkan lipatan.
Walau tidak paham untuk apa, laki-laki itu menerima kertas dan meneruskan ke orang di hadapannya dengan pesan yang sama. Begitu seterusnya sampai Rania menerima.
Hanif melihat kerut di raut Rania saat akhwat itu menerima kertas yang terlipat. Seperti bingung. Ia menangkap gerak bibir Rania ketika bertanya dari siapa kertas itu. Sang penyambung pesan hanya mengangkat bahu ringan.
Rania membuka kertas tersebut, sepersekian detik kemudian, akhwat itu menoleh ke belakang. Matanya mencari sesuatu. Hanif yakin, dirinyalah yang dimaksud. Benar saja, ketika pandangan mereka bertemu, tatapan Rania terkunci. Namun tidak lama, dua detik kemudian akhwat itu sudah mengembalikan pandangan ke depan.
Hanif tidak bisa membaca isi hati Rania. Apakah senang, kesal, atau marah? Hanya datar. Ia yakin akhwat itu akan menanyakan kepadanya nanti, apa maksud isi pesan yang dikirimnya.
***
“Maaf, ana berharap Ukhti bisa menjaga jarak dan tidak terlalu dekat dengan laki-laki.”
-Hanif-
Apa maksudnya?
Rania kembali membaca tulisan tangan yang rapi itu. Mencoba memahami.
Hanif tidak mau ia dekat dengan laki-laki? Memangnya kapan ia pernah akrab dengan mahasiswa di kampus? Perlakuannya ke teman-temannya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Ia hanya bersikap sewajarnya. Tidak juga mencari perhatian atau menggoda. Ia datang terlambat dan duduk di samping teman laki-laki karena hanya ini satu-satunya kursi yang kosong.
Sikap yang aneh. Masa hanya karena sebab ini ikhwan itu mengirimkan teguran?
Apakah ia perlu menanyakan hal tersebut ke Hanif? Namun untuk apa? Sebaiknya tidak, toh ia sedang berusaha menjaga jarak dari kakak tingkatnya itu. Tekadnya sudah jelas. Ia tidak mau lagi terjangkiti penyakit hati yang bisa membuat ibadahnya terganggu, juga niatnya dalam berdakwah di kampus.
Cukup sudah hatinya terombang-ambing tidak jelas dalam pesona seorang Hanif. Ia bahkan sempat curhat ke Ziya dan guru mengajinya. Perlahan jiwa Rania bangkit. Tausiah sang murabbiyah membuat hatinya kembali meyakini konsep jodoh. Jangan mengotori hati untuk cinta yang sebelum waktunya dan belum tentu bertemu dalam pelaminan. Lebih baik sibuk memperbaiki diri. Allah akan memberikan pasangan yang sesuai dengan kapasitas seorang hamba. Ingin mendapatkan pasangan baik, maka harus menjadi baik terlebih dahulu. Memendam rasa suka hanya membuat angan-angan semakin jauh. Berharap. Lalu terluka.
Ia harus memandang Hanif sebagai seniornya di kampus. Partner dakwah. Mereka bekerja untuk mengajak orang kepada kebaikan. Hanya itu.
Rania menarik napas panjang. Berusaha meredam sebuah rasa yang masih tertinggal jauh di sudut hati. Ya, memang masih tersisa, tersimpan rapi di sudut hati. Namun ia tengah berjuang, walau tidak mudah. Menghilangkan sebuah rasa yang pernah hadir memenuhi kalbu.
***
Hanif belum bisa mengeluarkan Rania dalam pikiran. Semakin kuat ia berusaha, semakin kuat rasa itu menancap. Cinta dalam diam. Tidak pernah ia menceritakan isi hati ini kepada orang lain. Hanya curhat kepada Sang Pemilik Hati. Ia tidak tahu harus diapakan dorongan batin ini?
Mencabut sampai ke akar atau memupuk hingga tumbuh subur? Umurnya kini 21 tahun. Banyak juga aktivis dakwah yang menikah muda. Jika memang takdirnya, kenapa tidak, ia siap menghadapi prosesnya. Daripada cinta dalam diam yang tidak halal.
Ia mengembus napas berat. Bukan pilihan yang sulit sebenarnya. Ia tahu mana yang hak dan batil. Sudah jelas yang halal dan haram. Seterang siang dan malam. Jika belum waktunya, ya harus dilepaskan. Tetapi godaan itu mengikatnya kuat. Kadang ia bisa menahan diri, tetapi lebih banyak tidak. Apalagi bila berhadapan langsung dengan Rania. Hatinya lemah, imannya tipis.
Teringat ia pernah memberikan nasihat kepada akhwat itu. Nasihat yang muncul karena keegoisan diri. Melarang Rania bersikap terlalu akrab dengan laki-laki lain. Entah apa yang mendorongnya ketika itu. Ia mencoba mengingkari, bahwa itu adalah tausiah dari saudara sesama muslim, saling mengingatkan dalam kebaikan. Tetapi ia yang paling tahu alasan sebenar. Cemburu.
Ia tidak suka bila Rania dekat dengan mahasiswa di kampus. Ia ingin akhwat itu untuk dirinya sendiri.
Pesan balasan dari Rania membuatnya plong.
“Maaf, ana tidak merasa melanggar batasan dalam berteman dengan lawan jenis. Ana tahu adab dan menjaga diri untuk suami ana kelak.”
Ia tersenyum semringah. Tersirat kemarahan di kertas yang diberikan. Ia malah lega. Benar hatinya memilih Rania. Akhwat itu menjaga diri untuk tidak tersentuh oleh laki-laki lain. Poin yang membuat kekagumannya bertambah.
“Afwan, sudah bisa dimulai rapatnya?”
Suara serupa buluh perindu mengalun lembut dari balik hijab. Membuat Hanif tersadar seketika. Ia tengah berada di musholla untuk rapat koordinasi dengan Rania.
“Iya, bisa,” sahut Hanif.
Hanif tidak terlalu fokus dengan rapat yang berlangsung. Ia sibuk menghirup wangi yang keluar dari lisan Rania. Seperti inikah harum surga? Pertukaran kertas dari bawah hijab bergerak indah bagai alunan melodi yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Dirinya hanyut. Bagai orang yang tengah mabuk cinta. Membuat lupa.
“Ukhti … ana nggak tahu kenapa bisa begini. Dulu ana berusaha menjaga jarak dengan anti, tapi sekarang kok malah berubah suka.”
Hening selama lima detik yang terasa bagai selamanya.
Hanif menepuk dahinya pelan. Ia langsung menyesali ucapannya. Kenapa ia bisa menyampaikan hal tabu itu. Memang yang disampaikan adalah kejujuran, tetapi ia khawatir dengan tanggapan Rania akan pernyataannya barusan. Apa yang akan dipikirkan akhwat itu tentang dirinya?
Gesekan suara rumput. Tiupan angin lembut. Suara tilawah ikhwan dan akhwat yang sedang beristirahat di pojok mushalla memecah hening.
Rania terpaku.
“Eh, kita lanjut ke poin ketiga,” lanjut Hanif menjaga intonasi suara tetap datar. Rapat berlangsung seperti biasa, seolah kata-katanya tadi tidak pernah ada.
***
Debar di dada Rania masih menyisakan bekas, ketika rapat usai. Ia tertegun saat mendengar pernyataan Hanif yang membuat geger hatinya. Apa maksud dari ucapan ikhwan itu tadi?
Ia berusaha menolak kemungkinan Hanif menyukainya. Tidak. Rasanya tidak mungkin. Lagi pula. Ia sedang belajar melupakan.
Rania menarik napas panjang. Ia butuh teman bicara saat ini. Hatinya kembali bimbang.
***
Rania menundukkan kepala, setelah selesai menceritakan isi hati kepada Nisa, ketua keputrian sekaligus guru mengajinya, di mushalla kampus pagi ini. Belum ada orang lain di sana selain mereka berdua. Puas rasanya Rania menceritakan semuanya, termasuk kalimat menggelegar yang disampaikan Hanif.
“Anti tahu, kan, tidak ada pacaran dalam Islam?” tanya Nisa hati-hati dan santun.
Rania mengangguk.
“Tidak juga mengikat janji sebelum waktunya?”
Rania kembali mengangguk. Beberapa ikhwan dan akhwat tidak jarang saling mengikat janji, mereka akan menikah beberapa tahun lagi. Selama waktu tunggu saling tidak berinteraksi. Bila ada lamaran lain yang datang akan ditolak. Sampai sang ikhwan datang melamar. Namun, terkadang dalam proses tidaklah semulus rencana. Beberapa kasus, ikhwan tidak kunjung datang, malah menikah dengan akhwat lain. Akhirnya, sang akhwat harus menderita perasaannya.
Kasus lain yang sering terjadi akhirnya berkhalwat di tempat umum, berkhalwat di telepon, atau berkhalwat lewat SMS.
Sebenarnya ini adalah masalah hati. Bagaimana menjaga agar tidak terkotori dengan cinta selain kepada-Nya. Rasa yang berpotensi kepada maksiat. Seusia Hanif dan Rania, rasa cinta mulai liar mencari-cari. Risiko selalu ada bila berpasangan dalam kerja dakwah. Namun sistem ini sudah berjalan lama dan berhasil mengajak banyak mahasiswa kepada kebaikan. Akhirnya metode tetap berjalan, tinggal bagaimana masing-masing menjaga hati.
“Hubungan apa yang terjalin antara anti dengan Hanif?”
Rania menggeleng. Ia tidak punya hubungan apa-apa dengan ikhwan itu. “Hanya teman di pembinaan, Mbak.”
“Lalu, kenapa Hanif sampai berkata seperti itu ke anti? Pasti ada apa-apanya, kan? Belum lagi pesan yang kerap dia kirim ke anti.”
Hanif memang beberapa kali mengirim pesan tertulis kepadanya. Kebanyakan berisi tausiah. Rania benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan ikhwan itu kepadanya. Ia tidak mau mengira-ngira.
“Sebaiknya anti pindah divisi saja.”
Rania mendongak. Pindah divisi? Namun ia menyukai dunia pembinaan. Sudah menjadi darah dagingnya. “Tapi, Mbak ….”
“Anti keberatan?”
Rania menggeleng. “Bukan, hanya saja, ana mencintai dunia pembinaan.”
“Insya Allah, sebagai kader siap ditempatkan di mana saja. Dakwah itu luas. Anti harus siap.”
Rania mengangguk. Ia paham hal itu.
“Ingat pesan Mbak dulu. Jaga hati. Setan masuk dari celah kecil yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Setan menyerang titik lemah seorang hamba,” tausiah Nisa. “Banyak ikhwan dan akhwat yang terkena penyakit hati satu ini. Ingat tujuan awal berdakwah untuk apa. Bukan untuk mendapatkan pasangan hidup. Jodoh itu bisa datang dari mana saja.
“Jangan kotori niat mulia kita untuk membantu agama Allah dengan urusan remeh seperti saling suka, yang nantinya berujung maksiat. Perbaiki niat. Perbaiki hati. Perbaiki diri. Allah tidak mungkin salah penilaian-Nya.
“Mungkin bagi kita saat ini dia yang terbaik. Padahal belum tentu demikian. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Allah sudah menyiapkan pada waktunya nanti. Jadi tidak perlu risau. Kalau memang sudah jodoh, insya Allah akan Allah pertemukan.”
Air mata Rania tumpah, membasahi jilbab ungu kesukaannya. Sejujurnya ia tak tahu kenapa air matanya mengalir. Apakah memang sudah dalam rasa untuk Hanif? Ah … tidak. Tangisan ini karena cintanya pada dakwah.
Ia meresapi semua tausiah Nisa sepenuh hati. Ia memang sangat lemah. Imannya tidak sebanding para sahabiyah yang teguh kukuh. Sedikit tergelincir, ia bisa masuk dalam perangkap setan.
“Untuk Hanif nanti biar Mbak yang ngomong. Besok Mbak bicarakan di syuro’ rohis tentang kepindahan anti.”
Rania mengangguk. Ia patuh dengan gurunya. Insya Allah ini yang terbaik.
“Baik. Ada lagi yang ingin anti ceritakan?”
“Nggak Mbak. Doakan saja ana bisa tetap istiqomah.”
“Insya Allah selalu Mbak doakan.”
Rania menarik napas lega. Ia merasa masalahnya sudah teratasi. Ia berharap demikian. Dipeluk kakak kelasnya dengan penuh cinta.
***
Hanif sudah mengira kalau hari ini akan tiba. Cepat atau lambat orang lain akan tahu. Mungkin bukan dari dirinya, karena ia pandai menyimpan rasa. Sepertinya Rania menceritakan perihal ini kepada ketua keputrian.
“Ini sudah keputusan syuro’. Insya Allah Rania akan pindah divisi. Ana harap tidak ada kendala ke depannya. Rania juga juga siap di tempatkan di mana saja, selagi untuk dakwah kampus,” jelas Nisa dari balik tabir.
“Afwan, kalau boleh tahu, apa alasannya, Mbak? Apakah ada yang salah dengan kinerja ana di pembinaan?”
Nisa menghela napas pelan. “Ana pikir, Akhi sudah tahu alasannya. Kami tidak mau ada desas-desus tidak baik beredar di luar sana.”
“Desas-desus seperti apa?”
“Kami tidak mau orang luar tahu kalau ada hubungan yang tidak seharusnya antara koordinator ikhwan dan akhwat. Ini akan membawa stigma negatif ke depan.”
“Tapi … ana tidak ada hubungan apa-apa dengan Rania,” bantah Hanif. Belum, lebih tepatnya.
“Rania sudah menceritakan semua ke ana. Dan ana pikir itu sudah lebih dari cukup. Akhi menunjukkan sikap kalau Akhi menyukai Rania. Seharusnya Akhi tahu hal seperti itu dilarang,” sergah Nisa.
Hanif tertegun. Benar. Rania sudah menceritakan semua ke Nisa. “Ana tahu kalau ini tidak diperbolehkan, tapi … Rania berbeda, Mbak.”
“Istighfar Akhi, istighfar. Ingat, jangan maksiat kepada Allah. Tujuan Akhi untuk dakwah di kampus itu apa? Lillah. Bukan karena seorang akhwat.”
Hanif menarik napas berat. Ia tidak pernah satu kali pun menyentuh Rania. Bahkan bertemu di luar hijab musholla juga tidak pernah. Mereka hanya berbincang di telepon, tanpa bersemuka. Ia menghormati Rania sebagai muslimah yang menjaga izzah-nya. Hanya keinginan hati untuk menjadikan akhwat itu pendamping hidupnya kelak. Apakah salah?
“Ana tidak pernah melanggar batasan, Mbak. Ana akui, ana memang menyukai Rania, tapi rasa ini tidak pernah ana tunjukkan atau ceritakan kepada yang lain. Hanya untuk ana sendiri. Saat ana sampaikan suka dalam rapat tempo hari, itu keceplosan ….”
“Satu kalimat itu sudah cukup. Ini sudah keputusan syuro’. Kalau Akhi yakin dengan jodoh yang akan Allah pilihkan nanti, tentu Akhi tidak keberatan apabila Rania pindah divisi, kan? Karena ini tugas dakwah. Akhi juga tidak keberatan kalau tidak menghubungi Rania lagi, bahkan lewat telepon?”
Hanif terdiam. Apakah ia sanggup?
“Akhi buktikan ke diri Akhi sendiri, apakah selama ini niat Akhi ikhlas karena Allah, atau karena makhluk?” tantang Nisa. “Apa yang Akhi mau jawab jika Allah murka, aktivitas dakwah-Nya dicampur dengan cinta yang tidak halal? Apa yang Akhi mau jawab jika Nabi ada di hadapan Akhi sekarang ... kenapa ada aktivis dakwahnya yang mengkhianati dakwah nabi-Nya? Kenapa tega berbuat seperti itu pada Nabi antum sendiri?
“Akhi … satu hati terlalu sempit untuk menyimpan dua cinta. Hanya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang akan mengantarkan ke surga-Nya. Sementara cinta manusia yang belum waktunya ... akan mengantarkan antum ke mana?”
Hanif terpekur. Perkataan Nisa yang bertubi-tubi menohoknya sangat dalam. Ia tidak punya argumen untuk menentang. Air mata Hanif menggenang, bercampur rasa malu, takut siksa Allah dan takut kehilangan Rania. Beginikah rasanya putus cinta?
benar-benar berdampak dari kecelakaan itu.

Info Novel Rania

Ingin Tahu Isi Novel Rania? Semua Dibongkar di sini

Ketika seorang perempuan dan Laki-laki yang memegang teguh Agamanya jatuh cinta

Jadi Ketika Sujud Panjangmu Menjadi Jawaban Dari Ke-GALAU-an Mu