Novel Rania Part 4
Bab 4 Menemukanmu
.
“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [QS Al-Insaan: 25-26]
.
.
Rania memperhatikan bus yang menepi di dekat gerbang kampus. Pagi ini mereka hendak menuju tempat daurah. Berbeda dengan pelatihan terdahulu, kali ini khusus untuk anggota rohis yang ingin terlibat aktif di dakwah kampus. Dalam setahun ada dua kali daurah. Pertama untuk mahasiswa baru, kedua untuk kaderisasi pengurus.
Rania dan Ziya mengikuti Nisa menuju kendaraan roda enam tersebut. Seperti biasa bus akhwat dan ikhwan terpisah. Manik mata Rania menangkap Hanif sedang memberikan pengarahan kepada ikhwan. Hanya sekilas.
“Ran!”
“Eh, iya.” Rania gelagapan ketika Ziya memanggil. Mengira sahabatnya itu tahu kalau ia sedang memperhatikan seorang ikhwan.
“Bawa sabun sama sampo nggak?”
Rania bernapas lega. “Bawa, kenapa?”
“Pinjam, ya. Aku lupa.”
Rania mengangguk seraya menaiki tangga bus. Mereka memilih tempat duduk di bagian depan. Ia kebagian di dekat jendela. Ziya duduk di sampingnya.
Selama menunggu akhwat lain naik, Rania melayangkan pandangan ke luar. Lagi-lagi matanya menangkap Hanif di tengah ikhwan yang sedang naik bus.
“Ngeliatin apa, sih?” Ziya ikut melongok.
Rania menjengit. “Bu-bukan apa-apa.” Ia menoleh ke sahabatnya itu seraya tersenyum canggung.
Ziya menatap penuh selidik. Dahinya sedikit berkerut.
“Apaan, sih?” Rania menyenggol bahu sahabatnya pelan. Untunglah Nisa segera menyelamatkan. Ketua keputrian rohis itu berbicara di depan dan memberikan pengumuman.
Pikiran Rania teralih, Nisa memberikan tausiah agar peserta daurah meluruskan niat dan berharap agar daurah kali ini membawa kebaikan dan manfaat. Terutama untuk dakwah kampus.
Niat Rania untuk mengikuti daurah memang untuk itu. Bukan yang lain.
***
Rania belum pernah merasa secanggung ini dalam hidupnya. Telapak tangan basah oleh keringat. Ia bergerak tidak nyaman di atas karpet biru. Risih rasanya mereka berdua di ruangan ini, walau terpisah hijab.
Mushalla MIPA memiliki sekretariat yang berada di depan. Antara ruang ikhwan dan akhwat dipisahkan oleh tripleks setebal 8 mm. Tebal dan tidak bisa saling melihat. Ketika rapat, mereka hanya mendengarkan suara. Apabila diperlukan, komunikasi detail bisa dilakukan dengan mengangsurkan secarik kertas dari bawah papan yang tingginya 10 cm dari lantai.
Di balik penghalang itu ada Hanif.
Suasana hening. Hanya bunyi kipas angin berputar yang terdengar.
“Ehem.”
Rania bertambah gugup mendengar suara dari ruang ikhwan.
“Bisa dimulai, ukhti?”
Rania menarik napas panjang. “Insya Allah.” Ia menata suara agar tidak gemetar.
“Baik. Bismillahirrahm anirrahim. Assalamu’alaiku m warrahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussa lam warrahmatullahi wabarakatuh,” jawab Rania lirih.
“Seperti yang ukhti ketahui, ana dan anti ditugaskan di divisi pembinaan, ana di ikhwan dan anti di akhwat,” jelasnya. “Rapat kecil ini untuk membahas program internal. Setelahnya anti bisa membawa hasil pertemuan ke akhwat lain untuk direalisasikan. ”
Rania mengangguk mengerti.
“Ini draft program yang sudah ana bikin untuk semester ini. Silakan bisa anti baca terlebih dulu.”
Selembar kertas di arahkan ke Rania lewat bagian bawah. Ia meraih kertas dan membacanya dalam hati.
“Bagaimana ukhti? Ada yang mau ditambahkan?”
Rania menggeleng. “Tidak. Insya Allah ana sepakat dengan program yang akhi buat.” Suaranya lebih rileks.
“Baik, kalau begitu kita bahas per program.”
“Baik.”
Selama tiga puluh menit ke depan mereka membahas detail. Pikiran berbalas Pikiran. Ide ditumpahkan merancang strategi dakwah ke depan.
“Ana pikir cukup dulu untuk hari ini. Insya Allah dua pekan lagi kita kembali rapat untuk evaluasi.”
“Insya Allah.”
“Baiklah. Kita tutup dengan mengucap hamdalah, istighfar, dan doa penutup majelis.”
“Subhaanakallhu mma wa bihamdika asyhadualla ilaahailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaiik,” doa Rania lirih.
“Assalamu’alaik um warrahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussa lam warrahmatullahi wabarakatuh.”
Rania mengembuskan napas lega. Akhirnya selesai juga. Ia sempat deg-degan awal tadi. Untunglah semua berjalan lancar.
Ia tidak menyangka takdir mempertemukan mereka kembali. Apalagi setelah daurah beberapa waktu lalu dan sesuatu yang ia harapkan terjadi.
Rania masih menyimpan rasa ingin tahu tentang siapa Ustadz yang ia tulis namanya di buku harian. Penasarannya terbayarkan. Ia mengetahui siapa orangnya.
Ketika itu mereka tengah bersiap shalat Tahajjud di masjid tempat daurah berlangsung.
“Siapa, ya, imam shalat Tahajjud-nya,” goda Ziya sembari berpura-pura melongok ke bagian ikhwan.
Rania mencebik. “Shhh … sudah mau mulai.” Tidak dipungkiri ia deg-degan menanti imam membacakan Al-Fatihah.
Shaf diluruskan. Tumit bertemu tumit. Rapat. Tidak memberikan celah bagi setan.
Takbiratulihram berkumandang.
“Bismillahirrah manirrahahiiim. ”
Seketika sejuk merambati hati. Ia menemukan kembali yang dicari selama ini. Suara imam yang dirindukan. Bacaan tartil dan mendayu membuatnya terhanyut dalam lantunan kalimat suci. Tanpa terasa bulir bening mengalir. Ia hampir tidak bisa menahan isak yang keluar dari bibir ketika kening menyentuh sajadah. Membuatnya tergugu dan memohon ampunan kepada Sang Pemilik Alam atas ketidakberdayaa an.
Kali ini surat yang dibaca adalah Al-Haaqqah. Baru beberapa ayat, tangisan sudah menggema. Bagaimana tidak, ayatnya bercerita tentang neraka dan ancamannya. Juga surga dan hadiahnya. Sang imam tahu betul memainkan nada dan rasa dari surat yang menggetarkan jiwa.
Allah... sebegitu dahsyat ayat yang dibaca membuat seorang akhwat terkulai dan jatuh, tidak sadarkan diri. Aroma minyak angin menyeruak membantu sang akhwat agar segera siuman. Riuh rendah suara beberapa akhwat di belakang, yang lain tetap melanjutkan shalat.
Tangisan semakin menderu. Udara dingin, ayat-ayat yang menggetarkan, ditambah harum aroma kayu putih menambah suasana magis nan syahdu.
Tahajjud kali ini sungguh menggoncang hati. Membuat iman kembali terisi. Rania bertekad untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi dalam beribadah. Ia tidak ingat akan misinya untuk mencari tahu siapa nama di balik pemilik alunan. Hatinya sudah terpenuhi dengan Allah, Allah, dan Allah.
Selesai kajian Subuh, Rania dan Ziya kembali ke penginapan untuk mandi dan sarapan. Ketika sedang menyuap nasi goreng, tanpa sengaja ia mendengar perbincangan salah seorang akhwat dengan Nisa di ruang makan.
“Mbak Nisa, tadi Ustadz siapa yang jadi imam shalat Tahajjud?”
“Kenapa, kok kepingin tahu?”
“Nggak, mau tahu aja. Bacaannya bagus. Ga nyangka sampai ada yang pingsan begitu. Surat yang dibaca juga masya Allah.”
“Iya, beliau memang sering jadi imam. Waktu daurah pertama beliau juga yang imam. Sering mengisi dibeberapa fakultas”
“Ooo … siapa tahu Ustadz-nya bisa diundang untuk jadi imam shalat Tarawih di masjid dekat rumah ana.”
“Bukan ustadz, kok. Masih mahasiswa.”
Rania menajamkan pendengaran. Nampaknya Nisa akan menyebutkan namanya.
“Siapa, Mbak?”
Jantung Rania berdebar pelan.
“Hanif. Ikhwan Kimia ’95.”
Deg!
Hanif? Debar di dadanya bertambah kuat. Hanif yang itu, kah? Ikhwan yang bertemu dengannya ketika bersama Bagus?
Ia masih memroses informasi yang baru diterima. Belum percaya orang itu Hanif.
Rania tersentak ketika Ziya menyenggol bahunya pelan. Sahabatnya itu juga mendengar pembicaraan barusan. “Beneran Kak Hanif ... senior kamu?” Ziya penasaran.
Rania mengangkat bahu, ia sendiri masih belum yakin. “Iya, kali.”
Ziya tersenyum simpul. “Wah, jodoh banget sama kamu, Ran. Sama-sama Kimia.”
“Shhh ….” Rania meletakkan telunjuk di bibir. Jangan sampai terdengar Nisa atau yang lain.
Sahabatnya itu tertawa kecil sembari menutup mulut.
Rania menarik napas pelan mengingat hal itu. Sekarang ia sudah tahu siapa sang Ustadz. Bukan hanya itu. Mereka berada di divisi yang sama di kepengurusan. Ia tidak pernah meminta, hanya mengemban amanah yang diberikan.
Ketika tahu Rania bertugas di pembinaan, Ziya sempat berkomentar.
“Ya ampun, Ran, kamu sama Kak Hanif? Kasihan …,” candanya dengan senyum dibuat memelas.
Sebenarnya bukan tanpa alasan sahabatnya mengatakan hal itu. Hanif memang terkenal tegas. Ikhwan dengan rambut klimis itu sangat menjaga pandangan bila sedang berbicara dengan lawan jenis. Awalnya Rania sempat khawatir bagaimana bila bekerja sama dengan Hanif kelak. Tetapi setelah rapat barusan, tidak begitu buruk. Ia mengagumi sikap gamblang yang ditunjukkan. Seharusnya ikhwan memang seperti itu. Tidak mencla-mencle.
Setelah memastikan barangnya tidak ada yang tertinggal, Rania beranjak berdiri dan keluar dari mushalla. Setelah ini ia langsung pulang karena tidak ada kelas. Saat melewati pintu ikhwan yang terbuka sedikit ia tergoda untuk melirik. Tetapi dienyahkan keinginan itu. Ingat Rania, jaga hati, batinnya.
Rania menarik napas dan melanjutkan langkah. Sepertinya ia harus menambah tilawah Al-Qur’an dan Tahajjud setiap malam agar hatinya tetap lurus.
***
Hanif mengembuskan napas lega ketika Rania sudah tidak berada di sana. Sambil menyandar, wajahnya tertunduk sambil memainkan pulpen dan menatap notula rapat. Ia tidak tahu harus senang atau takut ketika mengetahui satu divisi dengan adik tingkatnya itu. Ia tidak pernah merencanakan, tetapi Allah lebih tahu mana yang lebih baik untuk hamba-Nya. Ini mungkin ujiannya, apakah bisa meluruskan niat, berdakwah karena Allah, bukan karena seorang akhwat yang mencuri perhatiannya.
Tidak dipungkiri, raut mungil Rania terbayang selama rapat tadi. Hijab memang menghalangi, tetapi tidak membatasi imajinasi. Suara Rania yang pelan dan tegas terdengar bagai alunan merdu di telinga. Hanif hampir tidak konsentrasi tadi.
Ia khawatir hatinya membelot. Hal ini tidak boleh terulang kembali. Ia tidak boleh mengikuti nafsunya kepada akhwat itu. Tidak boleh.
Hanif berjanji dalam hati untuk puasa sunah dan Tahajjud setiap malam. Cara paling mujarab adalah memenuhi hati dengan cinta kepada-Nya, sampai tidak ada ruang untuk yang lainnya.
Ia beristighfar sebanyak-banyak nya,
memohon ampunan kepada Allah atas kelemahan iman dalam hati. Ia tidak
boleh lengah. Ia sudah komitmen untuk fokus mengembangkan dakwah di
kampus dan belajar yang baik, bukan yang lain.
Lagi pula Allah sudah menetapkan jodohnya. Untuk apa meresahkan sesuatu yang sudah pasti? Bisa saja Rania bukan yang Allah berikan. Mungkin akhwat lain yang ia belum pernah bertemu sebelumnya.
Hanif menarik napas panjang. Hati siapa yang hendak dibohongi? Ia menginginkan itu Rania.
.
“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [QS Al-Insaan: 25-26]
.
.
Rania memperhatikan bus yang menepi di dekat gerbang kampus. Pagi ini mereka hendak menuju tempat daurah. Berbeda dengan pelatihan terdahulu, kali ini khusus untuk anggota rohis yang ingin terlibat aktif di dakwah kampus. Dalam setahun ada dua kali daurah. Pertama untuk mahasiswa baru, kedua untuk kaderisasi pengurus.
Rania dan Ziya mengikuti Nisa menuju kendaraan roda enam tersebut. Seperti biasa bus akhwat dan ikhwan terpisah. Manik mata Rania menangkap Hanif sedang memberikan pengarahan kepada ikhwan. Hanya sekilas.
“Ran!”
“Eh, iya.” Rania gelagapan ketika Ziya memanggil. Mengira sahabatnya itu tahu kalau ia sedang memperhatikan seorang ikhwan.
“Bawa sabun sama sampo nggak?”
Rania bernapas lega. “Bawa, kenapa?”
“Pinjam, ya. Aku lupa.”
Rania mengangguk seraya menaiki tangga bus. Mereka memilih tempat duduk di bagian depan. Ia kebagian di dekat jendela. Ziya duduk di sampingnya.
Selama menunggu akhwat lain naik, Rania melayangkan pandangan ke luar. Lagi-lagi matanya menangkap Hanif di tengah ikhwan yang sedang naik bus.
“Ngeliatin apa, sih?” Ziya ikut melongok.
Rania menjengit. “Bu-bukan apa-apa.” Ia menoleh ke sahabatnya itu seraya tersenyum canggung.
Ziya menatap penuh selidik. Dahinya sedikit berkerut.
“Apaan, sih?” Rania menyenggol bahu sahabatnya pelan. Untunglah Nisa segera menyelamatkan. Ketua keputrian rohis itu berbicara di depan dan memberikan pengumuman.
Pikiran Rania teralih, Nisa memberikan tausiah agar peserta daurah meluruskan niat dan berharap agar daurah kali ini membawa kebaikan dan manfaat. Terutama untuk dakwah kampus.
Niat Rania untuk mengikuti daurah memang untuk itu. Bukan yang lain.
***
Rania belum pernah merasa secanggung ini dalam hidupnya. Telapak tangan basah oleh keringat. Ia bergerak tidak nyaman di atas karpet biru. Risih rasanya mereka berdua di ruangan ini, walau terpisah hijab.
Mushalla MIPA memiliki sekretariat yang berada di depan. Antara ruang ikhwan dan akhwat dipisahkan oleh tripleks setebal 8 mm. Tebal dan tidak bisa saling melihat. Ketika rapat, mereka hanya mendengarkan suara. Apabila diperlukan, komunikasi detail bisa dilakukan dengan mengangsurkan secarik kertas dari bawah papan yang tingginya 10 cm dari lantai.
Di balik penghalang itu ada Hanif.
Suasana hening. Hanya bunyi kipas angin berputar yang terdengar.
“Ehem.”
Rania bertambah gugup mendengar suara dari ruang ikhwan.
“Bisa dimulai, ukhti?”
Rania menarik napas panjang. “Insya Allah.” Ia menata suara agar tidak gemetar.
“Baik. Bismillahirrahm
“Wa’alaikumussa
“Seperti yang ukhti ketahui, ana dan anti ditugaskan di divisi pembinaan, ana di ikhwan dan anti di akhwat,” jelasnya. “Rapat kecil ini untuk membahas program internal. Setelahnya anti bisa membawa hasil pertemuan ke akhwat lain untuk direalisasikan.
Rania mengangguk mengerti.
“Ini draft program yang sudah ana bikin untuk semester ini. Silakan bisa anti baca terlebih dulu.”
Selembar kertas di arahkan ke Rania lewat bagian bawah. Ia meraih kertas dan membacanya dalam hati.
“Bagaimana ukhti? Ada yang mau ditambahkan?”
Rania menggeleng. “Tidak. Insya Allah ana sepakat dengan program yang akhi buat.” Suaranya lebih rileks.
“Baik, kalau begitu kita bahas per program.”
“Baik.”
Selama tiga puluh menit ke depan mereka membahas detail. Pikiran berbalas Pikiran. Ide ditumpahkan merancang strategi dakwah ke depan.
“Ana pikir cukup dulu untuk hari ini. Insya Allah dua pekan lagi kita kembali rapat untuk evaluasi.”
“Insya Allah.”
“Baiklah. Kita tutup dengan mengucap hamdalah, istighfar, dan doa penutup majelis.”
“Subhaanakallhu
“Assalamu’alaik
“Wa’alaikumussa
Rania mengembuskan napas lega. Akhirnya selesai juga. Ia sempat deg-degan awal tadi. Untunglah semua berjalan lancar.
Ia tidak menyangka takdir mempertemukan mereka kembali. Apalagi setelah daurah beberapa waktu lalu dan sesuatu yang ia harapkan terjadi.
Rania masih menyimpan rasa ingin tahu tentang siapa Ustadz yang ia tulis namanya di buku harian. Penasarannya terbayarkan. Ia mengetahui siapa orangnya.
Ketika itu mereka tengah bersiap shalat Tahajjud di masjid tempat daurah berlangsung.
“Siapa, ya, imam shalat Tahajjud-nya,” goda Ziya sembari berpura-pura melongok ke bagian ikhwan.
Rania mencebik. “Shhh … sudah mau mulai.” Tidak dipungkiri ia deg-degan menanti imam membacakan Al-Fatihah.
Shaf diluruskan. Tumit bertemu tumit. Rapat. Tidak memberikan celah bagi setan.
Takbiratulihram
“Bismillahirrah
Seketika sejuk merambati hati. Ia menemukan kembali yang dicari selama ini. Suara imam yang dirindukan. Bacaan tartil dan mendayu membuatnya terhanyut dalam lantunan kalimat suci. Tanpa terasa bulir bening mengalir. Ia hampir tidak bisa menahan isak yang keluar dari bibir ketika kening menyentuh sajadah. Membuatnya tergugu dan memohon ampunan kepada Sang Pemilik Alam atas ketidakberdayaa
Kali ini surat yang dibaca adalah Al-Haaqqah. Baru beberapa ayat, tangisan sudah menggema. Bagaimana tidak, ayatnya bercerita tentang neraka dan ancamannya. Juga surga dan hadiahnya. Sang imam tahu betul memainkan nada dan rasa dari surat yang menggetarkan jiwa.
Allah... sebegitu dahsyat ayat yang dibaca membuat seorang akhwat terkulai dan jatuh, tidak sadarkan diri. Aroma minyak angin menyeruak membantu sang akhwat agar segera siuman. Riuh rendah suara beberapa akhwat di belakang, yang lain tetap melanjutkan shalat.
Tangisan semakin menderu. Udara dingin, ayat-ayat yang menggetarkan, ditambah harum aroma kayu putih menambah suasana magis nan syahdu.
Tahajjud kali ini sungguh menggoncang hati. Membuat iman kembali terisi. Rania bertekad untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi dalam beribadah. Ia tidak ingat akan misinya untuk mencari tahu siapa nama di balik pemilik alunan. Hatinya sudah terpenuhi dengan Allah, Allah, dan Allah.
Selesai kajian Subuh, Rania dan Ziya kembali ke penginapan untuk mandi dan sarapan. Ketika sedang menyuap nasi goreng, tanpa sengaja ia mendengar perbincangan salah seorang akhwat dengan Nisa di ruang makan.
“Mbak Nisa, tadi Ustadz siapa yang jadi imam shalat Tahajjud?”
“Kenapa, kok kepingin tahu?”
“Nggak, mau tahu aja. Bacaannya bagus. Ga nyangka sampai ada yang pingsan begitu. Surat yang dibaca juga masya Allah.”
“Iya, beliau memang sering jadi imam. Waktu daurah pertama beliau juga yang imam. Sering mengisi dibeberapa fakultas”
“Ooo … siapa tahu Ustadz-nya bisa diundang untuk jadi imam shalat Tarawih di masjid dekat rumah ana.”
“Bukan ustadz, kok. Masih mahasiswa.”
Rania menajamkan pendengaran. Nampaknya Nisa akan menyebutkan namanya.
“Siapa, Mbak?”
Jantung Rania berdebar pelan.
“Hanif. Ikhwan Kimia ’95.”
Deg!
Hanif? Debar di dadanya bertambah kuat. Hanif yang itu, kah? Ikhwan yang bertemu dengannya ketika bersama Bagus?
Ia masih memroses informasi yang baru diterima. Belum percaya orang itu Hanif.
Rania tersentak ketika Ziya menyenggol bahunya pelan. Sahabatnya itu juga mendengar pembicaraan barusan. “Beneran Kak Hanif ... senior kamu?” Ziya penasaran.
Rania mengangkat bahu, ia sendiri masih belum yakin. “Iya, kali.”
Ziya tersenyum simpul. “Wah, jodoh banget sama kamu, Ran. Sama-sama Kimia.”
“Shhh ….” Rania meletakkan telunjuk di bibir. Jangan sampai terdengar Nisa atau yang lain.
Sahabatnya itu tertawa kecil sembari menutup mulut.
Rania menarik napas pelan mengingat hal itu. Sekarang ia sudah tahu siapa sang Ustadz. Bukan hanya itu. Mereka berada di divisi yang sama di kepengurusan. Ia tidak pernah meminta, hanya mengemban amanah yang diberikan.
Ketika tahu Rania bertugas di pembinaan, Ziya sempat berkomentar.
“Ya ampun, Ran, kamu sama Kak Hanif? Kasihan …,” candanya dengan senyum dibuat memelas.
Sebenarnya bukan tanpa alasan sahabatnya mengatakan hal itu. Hanif memang terkenal tegas. Ikhwan dengan rambut klimis itu sangat menjaga pandangan bila sedang berbicara dengan lawan jenis. Awalnya Rania sempat khawatir bagaimana bila bekerja sama dengan Hanif kelak. Tetapi setelah rapat barusan, tidak begitu buruk. Ia mengagumi sikap gamblang yang ditunjukkan. Seharusnya ikhwan memang seperti itu. Tidak mencla-mencle.
Setelah memastikan barangnya tidak ada yang tertinggal, Rania beranjak berdiri dan keluar dari mushalla. Setelah ini ia langsung pulang karena tidak ada kelas. Saat melewati pintu ikhwan yang terbuka sedikit ia tergoda untuk melirik. Tetapi dienyahkan keinginan itu. Ingat Rania, jaga hati, batinnya.
Rania menarik napas dan melanjutkan langkah. Sepertinya ia harus menambah tilawah Al-Qur’an dan Tahajjud setiap malam agar hatinya tetap lurus.
***
Hanif mengembuskan napas lega ketika Rania sudah tidak berada di sana. Sambil menyandar, wajahnya tertunduk sambil memainkan pulpen dan menatap notula rapat. Ia tidak tahu harus senang atau takut ketika mengetahui satu divisi dengan adik tingkatnya itu. Ia tidak pernah merencanakan, tetapi Allah lebih tahu mana yang lebih baik untuk hamba-Nya. Ini mungkin ujiannya, apakah bisa meluruskan niat, berdakwah karena Allah, bukan karena seorang akhwat yang mencuri perhatiannya.
Tidak dipungkiri, raut mungil Rania terbayang selama rapat tadi. Hijab memang menghalangi, tetapi tidak membatasi imajinasi. Suara Rania yang pelan dan tegas terdengar bagai alunan merdu di telinga. Hanif hampir tidak konsentrasi tadi.
Ia khawatir hatinya membelot. Hal ini tidak boleh terulang kembali. Ia tidak boleh mengikuti nafsunya kepada akhwat itu. Tidak boleh.
Hanif berjanji dalam hati untuk puasa sunah dan Tahajjud setiap malam. Cara paling mujarab adalah memenuhi hati dengan cinta kepada-Nya, sampai tidak ada ruang untuk yang lainnya.
Ia beristighfar sebanyak-banyak
Lagi pula Allah sudah menetapkan jodohnya. Untuk apa meresahkan sesuatu yang sudah pasti? Bisa saja Rania bukan yang Allah berikan. Mungkin akhwat lain yang ia belum pernah bertemu sebelumnya.
Hanif menarik napas panjang. Hati siapa yang hendak dibohongi? Ia menginginkan itu Rania.

