Info Lengkap Novel Rania
Baca: Part1 - Part2 - Part3 - Part4 - Part5

Part6 - Part7 - Part8 - Part9 - Part10

Perempuan itu sadar betul belum waktunya rasa itu hadir. Tetapi ia tidak kuasa mencegah. Bagai virus yang menyebar melalui aliran darah. Nama Laki-laki itu terukir jelas, bukan hanya di pikiran, tapi juga hatinya.
Semua hanya dapat ia adukan kepada Sang Pemilik Cinta. Rasa ini begitu kuat tertancap. Meyiksanya dengan sangat. Hanya sedan pada sujud panjang di sepertiga malam yang menjadi penawar.

*
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisik laki-laki itu. “Ambil rasa ini dari hatiku, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa.”

**
Apakah benar hati bisa melupakan begitu saja?
Akankah masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan?
Ketika hati ikhlas dan berserah, pilihan-Nya menjadi yang terbaik

Novel Rania Part 8

Bab 8 Meredam Hasrat
.
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat yang dilakukan di malam hari.” [HR. Muslim No. 1163]
.
.
Hanif mengerjap beberapa kali, berusaha membuka pelupuk yang terasa berat. Silau. Ia kembali menutup netra. Allah, batinnya. Tubuh terasa remuk redam. Ia menyingkap mata perlahan. Putih. Pikirannya langsung tahu, ia berada di rumah sakit. Bukan kali pertama hal ini menimpa. Sebelumnya ia mengalami hal yang sama. Kecelakaan dan terbangun di tempat lain dengan bau antiseptik.
Hanif tidak ingat apa yang terjadi. Sepertinya ia tertidur sebelum menabrak sesuatu. Siapa yang menolong dan membawanya ke rumah sakit, ia tidak tahu. Siapa pun itu, ia mendoakan kebaikan yang banyak bagi penolongnya.
Hanif mencoba menggerakkan kepala, tetapi merasakan sesuatu yang mengganjal. Sulit digerakkan. Sepertinya pihak rumah sakit memakaikan penyangga leher. Apakah ada yang patah? tanya Hanif dalam hati.
Tidak lama pintu terbuka, sosok uminya muncul bersama adiknya, Naimah.
Umi kaget dan dengan cepat menghampiri anaknya yang terbaring lemah di ranjang. “Masya Allah, Hanif. Alhamdulillah. Sudah sadar kamu, Nak.” Umi mengusap rambut anaknya sayang.
“Umi …,” bisik Hanif lemah. Ia tidak mau melihat uminya sedih dan cemas seperti sekarang.
“Abang nggak apa-apa?” tanya Naimah khawatir.
Hanif berusaha menarik kedua sudut bibir yang terasa kaku. Kepalanya terasa berputar, padahal ia sedang berbaring.
“Sudah, jangan terlau banyak gerak dulu,” cegah Umi.
Obat bius masih mempengaruhi sistem, Hanif merasa matanya berat. Ia butuh tidur beberapa saat.
***
Sudah terlambat. Rania tidak bisa mundur lagi. Ia menyesal kenapa tadi terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Sekarang ia tidak bisa berbalik dan pulang. Di hadapannya pintu ruang inap tempat Hanif di rawat.
“Ran!” seru Ziya pelan. “Ayo masuk.”
Rania menoleh ke arah sahabatnya itu. “Eh, iya.”
Bismillah. Semoga ia melakukan hal yang benar. Ia hanya ingin memastikan Hanif baik-baik saja. Toh sudah menjadi keharusan menjenguk saudara yang sedang mengalami musibah. Rania mencari pembenaran untuk sikapnya.
Ia mengetuk dan mengucapkan salam.
“Masuk!”
Rania membuka pintu perlahan. Netranya langsung menangkap petiduran dengan Hanif terbaring diatasnya. Selimut menutupi sebagian tubuh ikhwan itu sampai ke perut. Sebuah penyangga di lehernya. Jantungnya berdebar semakin cepat. Apakah sebegitu parahnya? tanya Rania dalam hati.
“Assalamu’alaikum,” salam Rania seraya menghampiri sosok lebih setengah baya yang duduk di kursi samping ranjang. Ia menebak itu uminya Hanif, garis wajah mereka mirip. Ziya menyusul di belakangnya.
“Wa’alaikumussalam.” Umi beranjak dari duduknya.
“Maaf mengganggu, Umi. Saya Rania, ini teman saya Ziya. Kami adik tingkat Kak Hanif di MIPA.”
“Oh, iya. Terima kasih sudah jauh-jauh menjenguk. Silakan duduk,” sahut Umi ramah.
Rania dan Ziya merasa canggung. “Nggak usah Umi, kami berdiri saja.”
Selama berbincang Rania hampir tidak berani menatap Hanif. Ia lebih meperhatikan penjelasan Umi tentang kecelakaan yang menimpa ikhwan itu. Sekali ia melirik, ternyata kakak tingkatnya itu juga melakukan hal yang sama. Ia segara mengalihkan pandangan.
“Hanif mengantuk ketika pulang dari mabit.” Umi memulai ceritanya. “Dia nggak sadar waktu terjadi tabrakan.”
Rania ngeri membayangkannya. Tidur ketika mengendarai motor? Innalillahi.
“Jadi pas perempatan, Hanif nabrak mobil. Terus terlempar dari motor dan kepalanya membentur kaca jendela depan sebelah kiri. Kacanya pecah. Kepala Hanif masuk sampai ke kursi penumpang.”
Rania menutup mulutnya. Allah. Sampai sebegitunya?
“Kata Hanif dia nggak merasakan sakit atau apa. Mungin langsung pingsan waktu itu.” Umi mengakhiri ceritanya.
“Kata dokter gegar otak ringan,” sambung Hanif. Sedari tadi ia hanya diam, mendengarkan uminya bercerita sambil sesekali mencuri pandang ke arah Rania. Masya Allah. Ia tidak pernah menyangka akhwat itu akan datang melihat keadaannya.
Jarak antara kampus dan rumah sakit sangat jauh. Hanif sangat yakin Rania dan Ziya naik angkutan umum ke sini. Tanpa terasa hatinya berbunga, mendapat perhatian sebesar itu dari akhwat yang pernah mengisi hatinya.
“Innalillahi,” bisik Rania seraya menatap Hanif. “Sekarang bagaimana keadaannya?”
“Alhamdulillah, jauh lebih baik.” Hanif mencoba tersenyum. Sakitnya berkurang dengan kehadiran Rania.
Rani tersenyum sedikit. “Alhamdulillah.
Mereka berbincang cukup lama. Sampai adzan Maghrib berkumandang.
“Umi, sudah malam, saya dan Ziya permisi pulang,” pamit Rania.
“Loh? Mau langsung pulang ke Depok?” tanya Umi sangsi.
“Iya, Umi.”
“Sudah malam. Jangan pulang sendirian, daerah sini agak kuran amang,” cegah Umi.
“Insya Allah tidak apa-apa, Umi.”
“Tadi naik apa ke sini?” tanya Hanif.
“Bus.”
“Aduh … apalagi naik bus. Jangan, ah. Umi nggak kasih izin.”
Rania dan Ziya berpandangan. Sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Mereka juga tidak punya teman atau saudara di daerah sini.
“Sudah, kalian menginap di rumah Umi saja.”
Apa?! seru Rania dalam hati. Menginap di rumah Hanif?
“Ta-tapi … Umi ….” Rania bergantian menatap Umi dan Ziya.
“Sudah, tidak boleh menolak. Keselamatan kalian lebih utama. Nanti bisa tidur bareng kakaknya Hanif.”
Rania melirik Hanif sekilas, ingin melihat bagaimana reaksi ikhwan itu. Hanif mengangguk pelan. Ia tidak punya pilihan lain.
“Ba-baik, Umi.”
Menginap di rumah Hanif? Rania bahkan tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi.
***
“Apa nggak apa-apa?” tanya Ziya lagi.
“Dari pada kenapa-kenapa di jalan.” Rania memberikan alasan.
“Nggak enak aja,” tambah Ziya.
Rania juga merasakan hal yang sama. Dua akhwat menginap di rumah ikhwan? Rasanya kok ….
“Kak Hanif, kan, tidak ada di rumah. Jadi anggap saja kita menginap di rumah Naimah.” Rania mencoba membesarkan hati.
Ziya menarik napas panjang. “Ya, sudah.”
Rania dan Ziya pulang bersama Umi menggunakan taksi. Sesampai di rumah, Umi menyilakan mereka masuk.
“Rumahnya sederhana,” ujar Umi.
“Alhamdulillah, Umi. Berkah dengan banyaknya penghapal Al-Qur’an di rumah ini.” Rania tahu sedikit tentang adik dan kakak Hanif dari Naimah. Mereka adalah keluarga tarbiyah yang dekat dengan Al-Qur’an.
Umi tersenyum. “Nanti bisa tidur sama Najmah. Sekarang kalau mau bersih-bersih bisa di dalam. Habis sholat kita makan malam.” Umi mengantar Rania dan Ziya ke kamar yang akan ditempati. “Kalau mau memberi kabar ke orangtua di rumah, bisa pakai telepon di ruang depan.”
Rania mengangguk dan balas tersenyum. Apa yang akan ia katakan ke Ayah dan Ibu?
Selesai sholat Rania dan sahabatnya keluar menuju meja makan. Semua sudah berkumpul. Hatinya kembali merasa tidak nyaman. Allah. Dia tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan keluarga ini. Apalagi barusan ia bertemu Najmah di kamar. Malu rasanya. Pikiran itu masih bermain-main di kepala. Seorang akhwat menginap di rumah ikhwan? Rasanya ingin menghilang saja.
“Duduk, Rania, Ziya,” ajak Umi ketika melihat mereka keluar dari kamar.
Rania berharap malam cepat berlalu. Ia tidak berani membuka pembicaraan selama makan. Segan. Sesekali ia melirik Najmah dan Naimah, memperhatikan bagaimana reaksi mereka dengan keberadaannya di sini. Naimah tampaknya senang, kalau Najmah, akhwat itu tidak banyak bicara. Reaksinya pun hampir datar. Ia jadi mengira-ngira, apa yang ada di pikiran kakak Hanif itu.
Selesai makan malam yang terasa selamanya, Rania dan Ziya akhirnya masuk ke kamar untuk istirahat. Setelah Isya, ia dan sahabatnya langsung terlelap. Ia berjanji ini yang terakhir kali berada di rumah Hanif.
***
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Sedang sibuk, ukhti.”
“Nggak, baru selesai tilawah.”
“Ooo ….” Pola itu kembali berulang. Setelah Subuh, Hanif kembali mengabsen Rania lewat telepon. Sudah satu bulan sejak kecelakaan itu terjadi, ia masih harus bed rest selama beberapa bulan untuk pemulihan. Ia tidak pernah ke kampus. Tidak juga ke kosan. Hanya Rania yang ia jadikan penyambung informasi. “Bagaimana persiapan daurah untuk Ramadhan?”
“Alhamdulillah sudah lima puluh persen. Tempat sudah dapat dan sudah di booking.”
“Alhamdulillah. Ana juga sudah mendapatkan ustadz untuk mengisi daurah.” Samar-samar Hanif mendengar lantunan ayat suci dibacakan dari ujung sana. Bacaannya tartil dengan langgam mengalun. Membuatnya penasaran. “Siapa yang sedang membaca Al-Qur’an?”
“Oh, Ayah.” Rania menoleh ke ruang duduk, biasanya Ayah membaca Al-Qur’an selepas Subuh di masjid, tetapi kali ini ayahnya pulang lebih cepat karena sakit perut.
“Masya Allah, merdu sekali suaranya.” Hanif tidak basa-basi ketika mengatakannya.
“Alhamdulillah. Ayah pernah jadi qori ketika MTQ,” jelas Rania.
“Masya Allah.” Bertambah satu lagi kekaguman Hanif. Seorang Ayah yang dekat dengan Al-Qur’an tentu sangat menjaga anaknya dari maksiat. Ia yakin itu. Rania pasti memelihara dirinya dari hal-hal yang Allah larang.
“Akhi bertugas menjadi imam Tahajjud lagi?” tanya Rania.
“Insya Allah. Kenapa?”
“Nggg … nggak. Hanya saja, permintaan dari akhwat, jangan sampai kejadian Ramadhan kemarin terulang.” Rania masih bisa mengingat dengan jelas peristiwa itu.
Waktu sudah tinggal dua puluh menit menjelang azan Subuh, tetapi Hanif masih belum menunjukkan tanda akan mengakhiri Tahajjudnya. Rania sudah tidak konsentrasi. Di barisan jamaah akhwat, ia memikirkan sahur yang masih harus disiapkan.
Lima belas menit menjelang azan, Tahajjud berakhir, ia dan akhwat yang bertugas di konsumsi bergegas membagikan sahur di bagian belakang masjid.
Semua serba terburu-buru. Berkejaran dengan waktu. Rania sendiri baru bisa makan lima menit menjelang. Ketika sedang menikmati sahur, peringatan waktu azan Subuh diumumkan. Satu menit lagi. Ia mengunyah cepat dan minum sebanyak yang ia bisa.
Allah. Dengan sedih Rania menatap piring yang baru habis sebagian.
“Mbak … masih kepingin makan, tapi sudah azan,” keluh salah seorang peserta.
“Iya, Mbak. Masih lapar. Kelamaan, sih, Tahajjud-nya. Harusnya tiga puluh menit sebelum azan sudah sahur,” timpal yang lain.
“Makanannya bersisa, Mbak. Mubazir.”
Masalah tidak selesai sampai di sana. Setelah Subuh, Ziya mengajak Rania menemui Hanif. Sahabatnya itu ingin membuat perhitungan. Ziya menunjukkan makanan yang bersisa sangat banyak kepada Hanif. Susah payah panitia akhwat menyiapkan makanan untuk sahur kali ini. Sia-sia. Terbuang percuma.
“Insya Allah tidak terulang lagi,” sahut Hanif sedikit malu ketika Rania mengingatkannya. Ziya sempat marah padanya dulu. Ia memang tidak mempertimbangkan keadaan akhwat yang berbeda dengan ikhwan. Karena ia dan teman-teman lain bisa menghabiskan makanan dalam sekejap, berbeda dengan akhwat yang mungkin sedikit lambat.
Rania tersenyum. “Sebaiknya jangan, kalau tidak mau berhadapan dengan Ziya.”
Mereka berbincang selama sepuluh menit ke depan. Membahas tentang daurah. Setelah mengucapkan salam, Rania menarik napas panjang.
Sejak pulang dari rumah Hanif sebulan yang lalu, Rania masih didera perasaan malu. Kurang etis rasanya ia menginap di rumah Hanif, walau ikhwan itu tidak ada di sana. Ia merasa izzah-nya sebagai seorang muslimah dipertanyakan. Seharusnya sejak awal ia tidak menjenguk ke rumah sakit. Bisa saja ia menelepon Hanif setelah pulang ke rumah.
Rania kembali menata hati. Tidak bertemu Hanif di mushalla kampus untuk membahas rohis memberinya keuntungan tersendiri. Ia mencoba menghilangkan ikhwan itu dari pikiran. Ia menempa diri dengan Tahajjud dan puasa Daud. Tidak membiarkan waktu luang terbuang sia-sia, selalu ada kegiatan manfaat. Ia aktif mengisi kajian, liqo, dan TPA di masjid dekat rumah.
Ibadah yang ia niatkan karena Allah perlahan mengikis nama Hanif dari hati dan jurnal harian. Tidak ada lagi nama Ustadz tertulis di sana. Hanya aktivits dakwah dan mengajar les.
Rania meyakini ini hanya perasaan sesaat. Ia kagum dengan Hanif, salahnya terhanyut dan mengubah rasa itu menjadi getar di hati. Entah siapa jodohnya kelak, ia belum mau memikirkan. Biarlah Allah yang menunjukkan nanti. Seharusnya ia tidak mengotori hati dengan cinta semu manusia yang tidak jelas akhirnya. Prioritasnya saat ini sudah jelas, segera lulus dengan cum laude.
Hanya itu, tetapi … kenapa Hanif masih saja menghubunginya beberapa kali dalam sepekan? Hal itu membuat Rania harus berjuang lebih keras untuk melupakan ikhwan itu. Harus. Ia harus bisa.

Info Novel Rania

Ingin Tahu Isi Novel Rania? Semua Dibongkar di sini

Ketika seorang perempuan dan Laki-laki yang memegang teguh Agamanya jatuh cinta

Jadi Ketika Sujud Panjangmu Menjadi Jawaban Dari Ke-GALAU-an Mu