Info Lengkap Novel Rania
Baca: Part1 - Part2 - Part3 - Part4 - Part5

Part6 - Part7 - Part8 - Part9 - Part10

Perempuan itu sadar betul belum waktunya rasa itu hadir. Tetapi ia tidak kuasa mencegah. Bagai virus yang menyebar melalui aliran darah. Nama Laki-laki itu terukir jelas, bukan hanya di pikiran, tapi juga hatinya.
Semua hanya dapat ia adukan kepada Sang Pemilik Cinta. Rasa ini begitu kuat tertancap. Meyiksanya dengan sangat. Hanya sedan pada sujud panjang di sepertiga malam yang menjadi penawar.

*
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisik laki-laki itu. “Ambil rasa ini dari hatiku, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa.”

**
Apakah benar hati bisa melupakan begitu saja?
Akankah masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan?
Ketika hati ikhlas dan berserah, pilihan-Nya menjadi yang terbaik

Novel Rania Part 6

Bab 6 - Tak Ada yang Abadi
.
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzaariayat
Suram. Redup. Kelam.
Jalan raya yang dulu ramai kini sepi dengan asap hitam di beberapa titik. Toko-toko hancur dengan pecahan kaca di mana-mana. Barang-barang di dalamnya berserakan, habis dijarah orang yang tidak berperikemanusiaan. Perkantoran juga mengalami nasib yang sama. Porak-poranda.
Bagai kota mati. Sedikit sekali tanda-tanda kehidupan.
Dengan menahan nafas, Rania menatap layar televisi yang tengah menyiarkan aksi mahasiswa, netranya mencari-cari seseorang di sana. Sudah lebih satu pekan tidak mendapat kabar. Ia khawatir. Sangat khawatir.
“Akhi pergi?” tanya Rani beberapa hari lalu kepada Hanif di telepon.
“Insya Allah, semua ikhwan ikut bergabung.”
“Hati-hati.” Hanya itu yang bisa Rania sampaikan. Para akhwat sama sekali tidak diizinkan mengikuti aksi, untuk keselamatan.
“Insya Allah. Doakan saja semuanya berjalan lancar.”
Tanpa diminta Rania pasti mendoakan. Bukan saja untuk negeri ini, tetapi juga untuk ikhwan yang membuatnya hatinya berpaling. “Insya Allah.”
Rania mengganti saluran lain, semua berita hampir menayangkan informasi yang sama.
“Kampus kamu juga ikutan aksi?” tanya Ibu yang ikut menonton.
“Iya, Bu. Hampir semua mahasiswanya ikut.”
“Mudah-mudahan Allah berikan keselamatan.”
“Amin,” doa Rania khusyuk.
Tiba-tiba saja telepon rumah berdering, membuat Rania terlonjak dari duduk.
“Aku aja yang ambil,” sahut Asep, adik Rania nomor dua.
“Mbak saja!” seru Rania seraya beranjak berdiri dan menuju meja telepon. Ia berharap itu Hanif.
“Halo. Assalamu’alaikum.” Jantung Rania berdebar pelan ketika mengangkat telepon.
“Wa’alaikumussalam.”
Allah. Seseorang yang sangat dirisaukannya. Ia bernafas lega. “A-akhi di mana?”
“Masih di lokasi. Ana pinjam handphone teman. Alhamdulillah ana dan teman-teman di sini dalam kondisi baik.”
Rania menarik nafas panjang. “Alhamdulillah,” bisiknya.
“Ukhti baik-baik saja?”
Rania mengangguk. “Alhamdulillah.
“Sementara jangan keluar rumah dulu. Tidak usah ke kampus sampai semuanya mereda.”
Haru menyelimuti mendapat perhatian sebesar itu. Hanif cemas dengan keselamatan dirinya. Seharusnya ikhwan itu lebih was-was dengan keamanan diri sendiri dan teman-teman lain yang tengah berjuang di sana.
“Insya Allah.” Kekagumana Rania kepada Hanif bertambah. Betapa ikhwan itu selalu mengutamakan panggilan nurani.
“Maaf ana harus pergi dulu.”
Ia ingin mencegah namun tidak bisa. “Hati-hati.” Hanya itu yang meluncur dari bibir.
“Insya Allah. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Rania meletakkan gagang telepon. Ia tidak langsung beranjak. Masih belum percaya kalau barusan Hanif benar-benar meneleponnya. Ikhwan itu menyempatkan diri dari hiruk-pikuk suasana, hanya untuk memberikan kabar.
Kenapa? Apakah Hanif merasakan hal yang seperti yang ia rasakan?
***
Kampus Rania berkabung. Beberapa mahasiswa dari Fakultas mereka ada yang gugur dalam peristiwa Mei 1998. Isak dan sedan memenuhi salat Ghaib yang dilaksanakan di masjid kampus. Betapa kematian tidak memandang usia. Membuatnya semakin mempersiapkan diri dan memperbaiki amal sebagai bekal kelak di yaum akhir.
Mahasiswa yang meninggal tidak banyak diberitakan di televisi. Informasi Rania dapatkan dari orasi yang disampaikan penuh semangat oleh beberapa ikhwan di kampus. Orasi yang membakar gelora semua mahasiswa yang tersisa. Perkuliahan diliburkan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Universitas tempatnya menimba ilmu kembali menjadi rahim perjuangan.
Tuntutan mahasiswa mengerucut pada satu hal. Turunkan Presiden! Sebuah tuntutan yang sangat berisiko. Bagaimana tidak, Soeharto telah menjadi presiden selama 32 tahun. Orang nomor satu di Indonesia itu memiliki segala dengan militer dibawah perintahnya. Sementara mahasiswa, apa yang dimiliki? Hanya jaket almamater dan idealisme yang entah dihargai atau tidak oleh pemerintah.
Aksi mahasiswa tidak terbendung. Mereka marah. Harga bahan pangan yang membumbung tinggi, ditambah dengan kematian empat mahasiswa Trisakti membuat emosi menggelegak. Bagai api disiram bensin, berkobar. Menggerakkan semua mahasiswa yang masih diam. Tangis bercampur orasi tumpah ruah setiap harinya, menuntut sang Presiden mundur.
Hanif tidak pernah tampak di kampus. Tanggal 14 Mei 1998 semua mahasiswa berkumpul di UI Salemba. Sebuah aksi kembali digelar, besar-besaran. Beberapa koordinator di lapangan maju memimpin orasi. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Beberapa kali. Suasana berubah tegang. Ricuh. Teriakan beberapa mahasiswi yang nekat ikut aksi menambah hiruk pikuk.
Seluruh peserta aksi berhamburan masuk ke ruang kelas. Berlarian menyelamatkan diri. Merasa di bawah tidak aman, Hanif naik ke lantai empat. Ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi dari atas sana.
Hanif memicingkan mata, dari jendela bangunan kelas yang berarsitektur belanda itu, ia melihat ribuan orang tak dikenal. Bukan mahasiswa. Entah siapa. Tangan mereka bergandengan, melangkah tanpa takut sedikit pun. Berbeda dengan mahasiswa yang harus berlindung di dalam.
Sejurus kemudian, Hanif melihat asap hitam membumbung di banyak sudut. Secara bersamaan. Seperti ada komando. Ia tak memahami apa yang terjadi. Suara sirine bersahut-sahutan. Ia melihat kembali ke jalanan. Jumlah orang-orang yang bergerombol semakin banyak. Dari atas gedung tapak asap hitam semakin mengepul.
Hanif dan sebagian ikhwan turun, penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi. Dari depan masjid Arief Rahman Hakim, ia melihat orang berseliweran membawa barang jarahan. Terjadi chaos. Toko-toko dijarah. Allah. Ini jauh dari apa yang direncanakan oleh mahasiswa. Entah kekuatan apa yang bergerak dibalik ini semua hingga membuat aksi damai menjadi pemantik perampasan.
Hanif tak memahami konstelasi politik. Dia selama ini hanya fokus dalam pembinaan dan kaderisasi mahasiswa. Namun jika ada kegiatan aksi, ia bertugas mengerahkan massa. Semua sudah dikerahkan.
Hanif bergegas ke masjid, mengambil wudhu, dan mendirikan sholat hajat. Ia berdoa bagi kebaikan bangsa ini. Bulir-bulir kristal menetes. Ia pasrah menyerahkan negara ini pada Sang Empunya.
***
“Hanif, ada briefing di atas!” seru Ridwan selepas sholat Ashar. “Yuk!”
Hanif menutup mushaf-nya dan beranjak berdiri. Dengan semangat ia mengikuti sahabat kosnya itu.
“Nif, antum ikut ke DPR?” tanya Ridwan sambil menaiki tangga.
“Ana belum tahu infonya. Antum pergi?’
“Insya Allah. Rencananya semua aksi dipusatkan di gedung DPR.”
“Bukannya lebih berisiko?”
“Mau bagaimana lagi, kita semua harus siap jadi martir.”
“Allah ...,” bisik Hanif bergetar.
Setibanya di atas, para ikhwan bersila rapi di lantai. Ruangan yang besar terasa sesak dipenuhi lebih tiga ratus orang perwakilan aktivis dakwah dari berbagai fakultas. Lutut mereka bersentuhan.
Seorang ikhwan maju dan mengambil mikrofon. Hanif mengenali sosok itu. Hatinya bergetar melihat sang empunya wajah. Fahri Hamzah, singa mahasiswa yang sudah ia kenal namanya sejak dulu. Ini kali pertama mereka bersemuka.
“Pemerintah ini harus segera diakhiri. Apakah antum semua siap berjihad?!” Fahri mengangkat tangan yang terkepal berapi-api.
“Siap!” Ruangan ikut bergetar dengan semangat yang dipertontonkan.
“Ujung kehidupan kita hanya ada dua. Hidup mulia atau mati syahid. Kita beruntung diberikan kesempatan untuk menjemput syahid saat kita masih bergelora. Kampus kita adalah lokomotif bagi perjuangan ini. Jika antum semua berjuang, seluruh Indonesia akan bergerak. Apakah antum siap?!” Fahri menaikkan intonasi suara.
“Siaaap! Allaaahu Akbar!”
Semangat Hanif bergelora. Ia siap berjihad untuk negaranya. Perkataan Fahri barusan terus bergema di pikiran. Saat ini hatinya fokus pada perjuangan. Tidak yang lain.
Selesai orasi, ayat Al-Qur’an dilantunkan oleh seorang ikhwan. Surat Al-Anfal. Hanif berusaha meresapi makna dari ayat yang dibaca.
Ayat kedua dilantunkan. Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. Air mata Hanif menggenang.
Ayat kesembilan. Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Buliran bening mendesak keluar. Hanif begitu yakin pertolongan Allah sangat dekat.
Ayat demi ayat yang diperdengarkan membuat suasana semakin gerimis. Tangis menderu di seluruh ruangan menjadi saksi perjuangan.
Hanif menyeka wajah yang basah. Hatinya tenang dengan janji yang Allah berikan. Insya Allah, Allah akan menolong hamba yang menolong agama-Nya.
Tiba-tiba Hanif teringat uminya. Sudah beberapa hari ia tidak pulang dan belum memberi kabar. Ia sudah mempersiapkan baju ganti ketika berangkat. Lagi pula kondisi tidak aman untuk pulang. Kendaraan berlapis baja bersiaga di beberapa titik, siap menjalankan perintah ketika melihat situasi yang tidak kondusif, ia tidak mau mengambil risiko. Lebih mendebarkan lagi adanya berita beberapa ikhwan syahid di beberapa kampus. Walaupun berita itu tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya.
Hanif meminjam ponsel seorang ikhwan dan menelepon uminya.
“Assalamu’alaikum,” salam Hanif sedikit bergetar.
“Wa’alaikumussalam. Hanif, kamu di mana? Umi nggak bisa tidur mikirim kamu. Di sini keadaan kacau. Banyak penjarahan. Kamu kapan pulang?” cecar Umi dengan berbagai pertanyaan.
“Iya, Mi. Maafin Hanif, ya. Hanif baik-baik aja, Mi. Sekarang masih di Salemba bareng teman-teman. Kalau pulang malah nggak aman. Hanif minta ridho-nya. Kalau ada apa-apa, Hanif minta maaf, minta ridho-nya Umi.”
“Haniiif …,” isak tangis tak tertahan di ujung sana.
Gagang telepon diambil alih Bapak yang berada di samping Umi.
“Nak, gimana di sana?”
“Insya Allah baik, Pak. Cuma Hanif memang belum bisa pulang. Tank-tank militer masih siaga di depan.”
“Ya sudah, kamu jaga diri. Banyak baca doa. Jangan terlalu depan aksinya. Di belakang saja. Ingat, kamu juga harus selesaikan kuliah.”
“Iya, Pak. Doain yang terbaik ya, Pak.”
“Insya Allah.”
Hanif memutuskan sambungan dan termenung. Terbayang kedua wajah orangtuanya yang cemas. Ia menarik napas panjang. Bersyukur umi dan bapaknya mengerti dengan perjuangan yang tengah ia dan teman-temannya lakukan.
***
“Akhi Hanif, ya?” Seseorang menegur Hanif.
“Oh iya, akhi.” Hanif terkejut ketika tahu siapa yang menegurnya. Fahri Hamzah.
“Bisa anterin ana ke gedung DPR?”
“Siap!” seru Hanif sigap.
Selama perjalanan, tidak terlihat kendaraan lalu lalang. Semua berdiam di rumah, memilih memantau keadaan negeri lewat layar kaca dan radio. Berhari-hari mahasiswa menduduki gedung DPR. Aksi demi aksi. Orasi demi orasi. Mewarnai kehidupan di salah satu puncak sejarah Indonesia.
“Bagaimana menurut antum ujung dari aksi ini, akhi?” tanya Hanif sambil mengendarai Khalid.
“Ana juga belum tahu. Tapi tugas kita hanya berjuang, akhi. Seluruh takdir telah ditetapkan Allah. Kezaliman hanya berakhir dengan kehancuran. Allah sudah pastikan itu berkali-kali di dalam Al-Qur’an.”
“Tapi belum ada tanda-tanda Presiden mau turun.”
“Tidak ada yang kekal, akhi. Hanya Allah yang abadi. Tinggal menunggu hari, seberapa lama pun, kita harus siap berjuang.”
Khalid terus melaju melalui jalan yang lengang. Perkantoran tutup berhari-hari. Dolar semakin tak terbendung. Harga-harga melambung. Mahasiswa kini menjadi satu-satunya harapan masyarakat.
“Jaga diri antum.” Fahri menepuk pelan pundak Hanif ketika turun di depan gedung DPR. “Ini sedikit untuk uang bensin.”
“Waduh jangan, akhi, suatu kehormatan bisa mengantar antum.”
“Jangan ditolak, akhi, cukup antum doakan ana.”
Perlahan Hanif melihat punggung Fahri menghilang. Bangga rasanya memiliki kakak angkatan yang memiliki keteguhan iman dan prinsip perjuangan luar biasa. Ia melihat dirinya sendiri, jihad apa yang sudah ia persembahkan kepada Rabb-nya?
Hanif memacu Khalid ke parkiran gedung. Tiba-tiba ia teringat Rania.
Wanita itu begitu memesona, hingga teralihkan hatinya dalam berdakwah. Betapa malu Hanif melihat perjuangan para ikhwan. Mereka tulus. Ikhlas. Sementara dirinya? Sekejap ia merasa hina. Terbayang ketegangan di masjid ARH sebagai base camp perjuangan. Berhari-hari ia menerima tausiah, sebagai bekal menghadapi kesyahidan yang mungkin terjadi.
“Ikhwah, kita tidak pernah tahu kapan umur kita. Kematian pasti menjelang. Jika antum boleh memilih, mana yang antum pilih? Mati di atas tempat tidur? Atau mati di jalan dakwah?”
“Mati di jalan dakwah!” seru semua ikhwah seraya bertakbir. “Allahu Akbar!”
Tahajjud setiap malam menjadi bekal yang tak putus. Hanif mendapat giliran satu kali memimpin Tahajjud, selebihnya ia menjadi makum dan tersungkur dalam sujud tak berkesudahan bersama ratusan aktivis dakwah. Hari-hari itu seperti tarbiyah jihadiyah panjang bagi Hanif mempersiapkan kematiannya.
Hatinya kini dipenuhi Allah, Allah, dan Allah. Mengaburkan nama akhwat itu di sudut hatinya. Rasa yang dulu pernah singgah, perlahan memudar. Tujuannya kembali terang. Dakwah. Hanya itu dalam benaknya kini.
“Ini karcisnya, Pak, jangan sampai hilang, rame banget di dalam,” sahut tukang parkir, membuyarkan lamunan Hanif.
“Oh ya, terimakasih, Pak.” Hanif memasukkan karcis ke kantung celana.
Hanif menyapu netranya. Sungguh pemandangan tidak biasa yang tak akan pernah ia saksikan seumur hidup. Mahasiswa menduduki atap gedung DPR. Aksi ini menjadi simbol negara yang tak lagi mampu menyejahterakan rakyatnya. Sudahlah Pak Harto, segeralah turun, batin Hanif.
Orasi masih terus berjalan. Hanif mengambil tempat di bawah pohon dan mengeluarkan mushaf kecil dari ransel. Ia memilih tenggelam dalam surat cinta-Nya.
***
21 Mei 1998.
Hanif melajukan motor di jalanan yang lengang. Badannya letih, berhari-hari aksi dan kurang tidur. Ia pulang untuk karena permintaan uminya. Selain itu pakaiannya sudah harus diganti. Ia meninggalkan gedung DPR saat masih ramai-ramainya. Entah kapan aksi akan berakhir.
Surat Al-Mulk dan Al-Kahfi menghiasi lisan Hanif selagi berkendara, sambil matanya awas melihat sekeliling.
Setiba di rumah, Hanif memarkirkan Khalid di garasi. Ia masuk sembari mengucapkan salam.
“Wa’alaikumussalam.”
Hanif mendapati semua keluarga sedang berkumpul di depan televisi.
“Hanif!” seru Najmah seraya beranjak dari duduk dan menoleh ke adiknya itu. “Presiden mengundurkan diri!”
Hanif menatap tidak percaya, kakaknya sedang tidak bercanda, kan? Ia menatap wajah Umi dan Bapak yang semringah dan mengangguk kecil.
“Beneram?!”
Najmah mengangguk kuat dengan senyum lebar.
“Allah ….” Hanif tersungkur sujud syukur. Terbayang kehidupan yang insya Allah akan lebih baik setelah ini. Perjuangan mahasiswa berbulan-bulan akhirnya terbayarkan. Benar saja, tidak ada yang abadi. Pun perasaanya terhadap Rania, tak abadi.
: 17-18]
.
.
Mei 1998.
.
Rania tidak pernah merasa setakut ini dalam hidupnya. Kota yang ia cintai telah berubah wajah. Sekarang ia tidak berani keluar sendirian. Ayahnya juga tidak mengizinkan pergi untuk hal-hal yang tidak penting.

Info Novel Rania

Ingin Tahu Isi Novel Rania? Semua Dibongkar di sini

Ketika seorang perempuan dan Laki-laki yang memegang teguh Agamanya jatuh cinta

Jadi Ketika Sujud Panjangmu Menjadi Jawaban Dari Ke-GALAU-an Mu