Info Lengkap Novel Rania
Baca: Part1 - Part2 - Part3 - Part4 - Part5

Part6 - Part7 - Part8 - Part9 - Part10

Perempuan itu sadar betul belum waktunya rasa itu hadir. Tetapi ia tidak kuasa mencegah. Bagai virus yang menyebar melalui aliran darah. Nama Laki-laki itu terukir jelas, bukan hanya di pikiran, tapi juga hatinya.
Semua hanya dapat ia adukan kepada Sang Pemilik Cinta. Rasa ini begitu kuat tertancap. Meyiksanya dengan sangat. Hanya sedan pada sujud panjang di sepertiga malam yang menjadi penawar.

*
“Ya Allah, penggenggam hati manusia, Engkau Maha Tahu, betapa hamba berusaha melepaskan diri dari bermaksiat kepada-Mu. Tapi iman goyah. Kuatkanlah, ya Rabb, kuatkanlah,” bisik laki-laki itu. “Ambil rasa ini dari hatiku, cabut sampai ke akarnya hingga tidak bersisa.”

**
Apakah benar hati bisa melupakan begitu saja?
Akankah masing-masing mendapatkan apa yang diinginkan?
Ketika hati ikhlas dan berserah, pilihan-Nya menjadi yang terbaik

Novel Rania Part 2

Bab 2 Sang Pemilik Alunan
.
“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [QS Al-Insaan: 25-26]
.
Hanif merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Allah … nikmatnya. Tidak semua orang mensyukuri hal-hal kecil yang mereka miliki. Seperti masih terbangun di pagi hari, bisa menghirup oksigen, netra berfungsi mengenal bentuk dan warna, tangan bekerja sempurna, kaki berdiri tegak menopang tubuh, lidah membedakan rasa, dan banyak lagi. Karunia yang kadang luput. Termasuk nikmat melempengkan tubuh setelah tiga hari berjibaku dengan seabrek aktivitas daurah.
Ia tidak hendak mengeluh, karena ini adalah pilihannya. Ia sangat paham bahwa jalan dakwah tidak pernah mudah. Butuh pengorbanan, waktu, harta, dan tenaga. Semangatnya membubung. Tidak ada yang bisa menghentikan gelombang di dalam diri yang mendesak keluar.
Baru sebentar mengistirahatkan mata, terdengar ketukan di pintu.
“Hanif!”
Uminya memanggil. Hanif beranjak duduk sembari memijat pelipis untuk mengurangi kliyengan. “Iya, Mi”. Hanif beranjak membuka pintu.
Sejak kecil Umi membiasakan Hanif dan adik-adiknya untuk mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ke kamar orangtua. Sebagai contoh, Umi melakukan hal yang sama ketika hendak masuk ke kamar anak-anaknya.
“Kenapa, Mi?”
“Ada telepon.”
“Dari siapa?”
“Heri.”
Hanif mengangguk singkat. Ia berjalan keluar. “Bapak sudah pulang, Mi?”
“Belum. Kamu sama adik-adik kalau mau makan duluan aja.” Umi kembali ke dapur.
Hanif melintasi ruang tengah di mana adik-adiknya sedang belajar dan mengerjakan PR. Ia ketiga dari sembilan bersaudara. Bapak dan Umi menginginkan anak yang banyak, karena Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bangga dengan ummatnya yang jamak.
Banyak anak tidak identik dengan hidup susah atau tak terurus. Buktinya mereka berkecukupan, walau ada masa di mana usaha bapaknya mengalami surut. Rezeki sudah Allah tetapkan sebelum seseorang dilahirkan. Kalau ada satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan dalam hidup ini, itu adalah pencaharian.
Rezeki akan mengejar pemiliknya, seperti halnya maut. Jadi tidak perlu resah dengan nafkah, justru seharusnya gelisah dengan banyaknya maksiat yang dilakukan.
“Assalamu’alaikum,” salam Hanif setelah mengangkat telepon.
“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, sudah sampai di rumah antum?”
Heri adalah sahabatnya sejak tahun pertama kuliah. Mereka sama-sama aktif di rohis kampus.
“Alhamdulillah, baru sampai. Ada apa, akhi?” Ia dan Heri menjadi panitia daurah penerimaan anggota rohis untuk mahasiswa baru di daerah Puncak. Hari ini acara berakhir, mereka tiba di kampus ketika Ashar. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, ia langsung pulang dan sampai di rumah Magrib.
“Afwan. Ana tahu antum mungkin sedang istirahat. Ustadz Kamil tadi nelepon ana, beliau minta tolong kalau ada ikhwan yang bisa menjadi imam Tahajjud malam ini di masjid SMA 73,” jelas Heri. “Ana langsung kepikiran antum.”
Hanif menarik napas pelan. Raganya memang butuh istirahat, tetapi jiwanya terpanggil untuk melaksanakan amanah. Tanpa pikir panjang, ia menjawab, “Insya Allah.”
“Alhamdulillah. Ana kabarin Ustadz Kamil dulu ya. Jazakallah khair, akhi.”
“Wa iyyaakum, akhi.”
Hanif meletakkan telepon dengan senyum kecil di bibir.
“Mau pergi lagi?” tanya Umi sembari meletakkan piring di meja makan. Anaknya yang nomor lima, Naimah, ikut membantu. Bunyi piring beradu pelan. Sendok dan garpu berdenting.
“Iya, Mi. Habis Isya, insya Allah.”
“Ya sudah, makan dulu.” Umi tahu benar dengan kegiatan anaknya itu. Padat. Sering tidak pulang ke rumah karena kuliah dan tugas dakwah. Ia bersyukur, untuk itulah ia mendidik anak-anaknya dengan keras sewaktu mereka kecil. Agar menjadi pejuang di jalan Allah.
Hanif mengangguk kecil. “Hanif mandi dulu, Mi,” pamitnya sebelum melangkah ke kamar.
Ia menutup pintu seraya memindai isi kamar. Ada empat petiduran di sana. Ia berbagi kamar dengan adik-adiknya. Sudah beberapa lama ia memikirkan untuk kos dekat kampus. Selain karena jarak yang dekat, ia juga menyukai suasana asrama ikhwan yang dinamis. Tentu akan lebih semangat berdakwah bila berkumpul dengan orang-orang yang satu visi dan misi.
Hanif menarik napas panjang. Ia menuju lemari dan bersiap mandi.
Ketika yang lain sedang hang out dengan teman-teman menghabiskan malam dengan bersenang-senang, ia memilih jalan yang tidak biasa. Sesuatu yang dianggap asing dan tidak keren oleh beberapa orang.
Biarlah Allah yang menilai.
Selesai bersiap, Hanif pamit ke uminya. Ia mengeluarkan Khalid, motor kesayangan pemberian bapaknya, dari garasi. Kendaraan roda dua yang dinamai Khalid itu sudah menemaninya selama hampir dua tahun ini. Ia berharap semoga Khalid menjadi saksi di yaum akhir nanti tentang perjuangannya mengemban amanah.
Dalam perjalanan ke masjid sekolah, motornya berhenti di perempatan lampu merah. Hanif melihat pasangan muda-mudi yang berjalan di sepanjang trotoar. Ingatan masa SMA kembali. Dulu ia pernah hampir terperosok ke hubungan tanpa status dengan seorang akhwat, bersyukur Allah masih menyelamatkan. Sekarang ia berusaha menata hati dan menjaga pandangan. Sangat tak pantas raga ini menikmati yang belum haknya.
Lampu masih merah. Menunggu pejalan kaki menyeberang.
Dari balik helm, netranya menangkap seorang perempuan berhijab panjang sedang menyeberangi jalan. Tiba-tiba memorinya kembali ke beberapa waktu yang lalu. Ketika awal semester.
Saat itu mahasiswa baru selesai mengikuti penataran P4 atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila di auditorium kampus. Ia sedang berada di dekat sana, hendak menuju kantin. Seperti biasa, ketika berjalan pandangan lurus ke jalanan di hadapan, menjaga mata.
Entah apa yang membuatnya mendongak, dan tanpa sengaja pandangannya tertumbuk pada seorang akhwat berwajah bening dengan mata sedikit sipit. Mungkin bukan sipit, akhwat itu sedang tersenyum pada teman di samping sehingga membuat netranya mengecil. Hanya beberapa detik, tetapi tidak dipungkiri membuatnya terpaku sesaat. Cantik. Itu yang terlintas dalam benak. Alis berbaris rapi dengan hidung mungil dan pipi kemerahan. Waktu berjalan sangat pelan. Wajah belia sang akhwat terekam hingga ke sukma.
Cepat ia tersadar, berpaling dan melanjutkan langkah. Sejak itu ia berikrar dalam hati, harus menjauh dari akhwat yang satu ini bila tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari. Bagi Hanif, perempuan berhijab putih itu terlalu jelita. Jika ada seseorang yang bisa menggoda, nampaknya hanya akhwat itu.
Mereka tidak pernah bertemu lagi. Tidak sampai daurah kemarin. Hanya selintas ketika sedang menunggu bus untuk bersiap pulang.
Dadanya berdesir halus mengenang hal itu. Hanif menarik napas panjang. Tidak. Ia tidak ingin bermain-main dengan hatinya. Sekarang waktunya fokus untuk dakwah. Bukan perempuan. Titik.
Tetapi … ia merasa akan bertemu kembali dengan akhwat yang namanya saja ia tidak tahu. Apalagi mereka satu kampus, kemungkinan besar satu organisasi. Kalau benar seperti itu, ia harus menyiapkan hati agar tidak terjatuh lagi ke lubang yang sama.
***
“Bagaimana daurahnya?” tanya Ayah sembari menyuap makanan.
“Alhamdulillah, menyenangkan, Yah.” Rania menyendok sayur ke piringnya. Mereka sedang makan malam bersama. Meja makan tidak cukup menampung keenam adik-adiknya. Beberapa duduk di ruang tengah.
“Kegiatannya apa saja di sana?” tanya Ibu sembari menyuapi si kecil yang masih balita.
“Banyak, Bu.” Rania menceritakan dengan semangat tentang kegiatan daurah selama tiga hari. “Nanti ada daurah lagi tahun depan. Rania mau ikut, ya, Yah.”
Ayahnya tersenyum tipis. “Kita lihat saja tahun depan.”
Bibir Rania sedikit maju.
“Udah istirahat dulu,” lerai Ibu. “Kamu pasti capek.”
Rania mengangguk pelan. Ia memang lelah. Tubuhnya terasa remuk redam. “Rania duluan, ya.” Ia pamit seraya membawa piring kotor ke bak cuci piring.
Ia terlalu letih untuk mencuci piring, lagi pula itu adalah tugas adiknya yang nomor dua. Mereka tujuh bersaudara, masing-masing mempunyai tanggung jawab karena tidak ada asisten rumah tangga. Ia kebagian menyetrika pakaian. Tugas yang banyak dihindari adik-adiknya.
Sampai di kamar Rania langsung menghempaskan tubuh di kasur. Allah… nikmat sekali. Ia menggeliat pelan. Ketika hendak memejamkan netra, tiba-tiba teringat sesuatu. Dengan sisa tenaga ia menurunkan kaki dari petiduran dan beranjak berdiri menuju meja belajar.
Rania duduk dan membuka laci, mengungkap buku bersampul hijau muda yang terletak paling atas. Hati-hati ia mengambil buku tersebut dan meletakkan di meja. Ia membuka halaman secara acak.
.
[Senin, 2 September 1996.
Assalamu’alaikum buku harianku. Hari ini aku senang sekali bisa bertemu dengan Mbak Nisa. Orangnya baik banget. Mbak Nisa ketua keputrian rohis di FMIPA. Dia ngajak aku dan Ziya untuk mengikuti kajian tafsir Al- Qur’an di kampus Jumat ini. Aku langsung mengiyakan. Mudah-mudahan bisa masuk ke rohis dan beraktivitas seperti Mbak Nisa.]
.
Rania tersenyum kecil. Sejak masuk kuliah ia memutuskan sebisa mungkin membuat jurnal tentang kegiatan di kampus. Tidak harus setiap hari, tetapi memuat kejadian penting dan aktivitas dakwah. Termasuk curahan hati.
Ia membuka halaman yang masih kosong, mengambil pena, dan mulai menulis.
.
[Ahad, 20 Oktober 1996.
Pertama kali mengikuti daurah dan menginap. Senangnya. Banyak ilmu yang aku dapatkan, juga teman baru dari jurusan lain. Mudah-mudahan bisa ikut daurah lanjutan tahun depan.]
.
Rania bertopang dagu sembari mengetukkan pena beberapa kali ke meja. Ia melanjutkan menulis.
.
[Bacaan imam shalat Tahajjud ketika daurah bagus banget. Semua juga bilang begitu. Suaranya membuat hati bergetar. Sampai sekarang masih belum tahu siapa orangnya. Apa perlu mencari tahu?]
.
Jemari Rania berhenti. Ia menarik napas panjang. Apa perlu ia mencari tahu?

Info Novel Rania

Ingin Tahu Isi Novel Rania? Semua Dibongkar di sini

Ketika seorang perempuan dan Laki-laki yang memegang teguh Agamanya jatuh cinta

Jadi Ketika Sujud Panjangmu Menjadi Jawaban Dari Ke-GALAU-an Mu